Teman Terbaik Itu Ya Kayak Dia



Sebelumnya saya udah menulis tentang Mrs. Rita, mantan supervisor saya dengan sebuah pesannya untuk saya.

Dan kali ini, saya mau cerita tentang Ms. Retno, teman kerja yang buat saya... teman terbaik itu ya yang kayak dia. Emang kayak gimana sih sosoknya Ms. Retno, sampe buat saya kok penting banget buat ditulis di blog ini? Yuk mariii...

Ms. Retno. Saya mengenalnya sebagai teman ngajar di salah satu lembaga saya pernah bekerja. Kelas mengajar kami yang seringkali “tetanggaan” dan juga sering pulang bareng, ini yang bikin saya jadi sering ngobrol ngalor-ngidul dengan Ms. Retno.

Ketika saya terdampar di lembaga itu, Ms. Retno juga masih jadi anak training. Dia sebulan lebih awal dari saya.

Speak English yang fasih sekali. Ini komentar pertama saya tentang Ms. Retno sewaktu kami berkenalan. Kami saling berbagi cerita tentang sekolah dan pengalaman kerja. Iya, cuma seputar itu, nggak ada pertanyaan kenapa saya belum nikah. Itu mah pertanyaannya si ... ah sudahlah! :P

Grammar-nya yang nggak kalah keren juga bikin saya jadi seneng sharing materi dengan Ms. Retno, karena saya bukanlah English teacher yang writing-nya udah sempurna. Jadi mending saling belajar kan, ketimbang krasak-krusuk ngomongin teman kerja yang lain, haha...

Sepintar apapun teman, kalau pembawaan dirinya nggak asyik, ya tetap nggak enak juga kan buat dijadiin teman. Model saya ini contohnya, haha... :P

Elegan woman, begini singkatnya saya menyebut Ms. Retno untuk pembawaan dirinya yang kalem, ngomongnya pelan dan santun. Iya, saya kurang nyaman dengan orang yang meledak-ledak. Sesekali jederrr... nggak masalah, tapi kalau tiap menit rame, berisik! :P

Teman yang pintar dan elegan, kalau model gini mah juga seabreg jumlahnya. Dua hal terpenting yang bikin saya nyaman berteman dengan Ms. Retno adalah dua kalimat ini...

“Ms. Nita, dzuhur done?” “Ashar done?” “Maghrib done? Tonight you have evening class, right?”

Dan ini kalimat kedua yang masih saya ingat betul sampai sekarang.

“Sudahlah, Ms. Nita. Jangan lagi bicara buruk tentang dia, walau dia yang memulai duluan. Nanti pahala ibadah Ms. Nita jadi pindah ke dia.”

Mungkin kita punya banyak kriteria tentang teman terbaik, dan kalau buat saya, salah satu dan yang paling penting dari teman terbaik adalah... mereka bisa mengingatkan kita tanpa kotbah berlebihan, apalagi sok tau dan menghakimi.

Ms. Retno nggak pernah nanya saya kapan nikah apalagi kenapa saya belum nikah. Lagian mana ada teman terbaik yang nanya-nanya privacy hidup saya, karena yang ada... mereka udah muak-muak dengerin curhatan saya, haha... Tapi hampir tiap hari Ms. Retno nanya, “Dzuhur done?” “Ashar done?” “Maghrib done?” Dan kadang ketika saya bilang, 

“Ah, yaaa... Not yet.” Dia cuma nyengir aja. Nggak ada tuh kalimat, “Terus aja lupain sholat demi kerjaan! Tuh neraka masih lebar!!!” Ahahaha... saya jadi ngebayangin kalau Ms. Retno yang kalem jadi nyolot kayak gini.

Dan kalau untuk kalimat kedua. Kala itu saya lagi cerita tentang seseorang yang Ms. Retno pun tau siapa orangnya. Dan ini yang saya suka dari Ms. Retno dan juga teman-teman terdekat saya lainnya. Mereka hidupnya nggak bertabur hahah-heheh basa-basi. Saya nggak mau debat ya tentang basa-basi, tapi saya nggak cocok berteman dengan orang yang kebanyakan basa-basi.Walau saya juga nggak suka dengan orang yang ceplas-ceplos nggak pake mikir. Ah, ribet hidup lu, Nit. Ada yang mau temenan sama lu aja udah untung! Haha... :P

Kalimat kedua itu merupakan salah satu contoh dari banyak juga nasihat yang Ms. Retno sampaikan tanpa basa-basi, tanpa berpikir kalau saya akan tersinggung. Again, selama disampaikan dengan penuh kesantunan, saya terima.

Salah satu yang bikin saya baper luar biasa sewaktu dimutasi ke salah satu cabang adalah... saya jadi nggak bisa pulang bareng Ms. Retno lagi dan ngobrol-ngobrol sepanjang perjalanan, walau saya akhirnya ketemu Ms. Doris dan Ms.Vina yang bisa jadi teman pulang bareng dan tempat saya meluapkan ocehan baper saya juga, apalagi sewaktu mau ngambil keputusan resign ketika saya memutuskan berhijab.

Di hari pertama saya dimutasi, saya sampaikan ke Ms. Retno dan Ms. Yessika juga melalui WA dan BBM, I’m gonna resign if I still there after contract. I plan to wear hijab.

Dan sekarang ini, Ms. Retno juga udah resign dari lembaga itu dan sedang mempersiapkan pesta pernikahannya. Wow, Allah ngasih jodohnya lintas benua, cowok Turki yang tinggal di Jerman. Setelah pesta pernikahan nanti, dia mau ikut suami tinggal di Jerman. Semoga silaturahmi kita tetap berjalan ya, walau sebatas facebook dan WA. Nice to hear this good news from her.

Happy wedding day. Barakallah. May your marriage brings happiness and of course bless for both of you forever. Amien.
            
Yaaa... ini cerita tentang teman inspiratif buat hidup saya. Kenapa saya tulis, biar saya terus bisa mengingatnya.

Bahagia nggak cuma perihal tentang uang aja kan, walau nggak punya duit juga bikin saya baper, haha... Memiliki teman terbaik juga salah satu kebahagiaan yang luar biasa. Dan teman terbaik itu salah satunya, yang bisa menularkan kebaikan untuk diri kita dan saling mengingatkan untuk makin dekat pada Tuhan.

Thanks for reading... Leave your comment  for visiting back... 

No comments:

Post a Comment

Makasih ya udah meluangkan waktu untuk berkomen. Semua komen melewati jalur sensor dulu ya sebelum mejeng di blog.

Memang tidak ada notif setelah klik posting, tapi komen teman2 tetap masuk ya :)