Uang Panai, Roman Budaya dengan Komedi yang Juara Banget


Apa kabar, teman-teman? Semoga hari ini dan seterusnya penuh keberkahan ya. Kopi boleh pahit, tapi hidup jangan. Semangat ji!

Yepsss... dua kalimat terakhir ini saya dapat dari sekian banyak quote-quote dan banyolan keren dari film Uang Panai, film roman budaya dengan polesan komedi yang akhirnya saya udah nonton juga sabtu kemarin di Blok M Square.
Anyway, tengkyu Blok M Square udah mau nayangin film Uang Panai. Kalau enggak, saya mesti jauh-jauh ke Sunter. Iya sih ada satu bioskop lagi, tapi nanyangin Uang Panai-nya cuma malem aja, udah gitu tiketnya lebih mahal.

Eh pas saya nonton, ada ibu Rina Hasim dan keluarga juga yang duduk di sayap kiri. Maap, buat saya ini penting banget ya buat ditulis, hahahah...


Gembar-gembor film Uang Panai memang udah agak lama juga saya dengar. Dari pertama kali dengar dan baca sinopsisnya, owww... film budaya tentang Bugis Makassar. Sebagai penyuka film budaya dari daerah manapun, selama itu film bagus, saya selalu nonton.

Dan pas dengar pekan lalu kalau film Uang Panai udah tayang, saya pingin cepat-cepat nonton. Apalagi pas baca komen teman-teman penyuka film budaya, kalau film ini keren banget. Sempet kaget juga pas tau kalau film Uang Panai di Jakarta ini cuma ada di tiga bioskop aja.

Di sini saya nggak bahas tentang jalan cerita, apalagi ending dari film Uang Panai ya, karena selain dari film ini masih tayang, ya memang nggak ada yang bisa ngalahin keseruan film ini selain dari nonton langsung. Yuk nonton, support untuk film budaya Indonesia yang bagus.

Saya cuma mau sharing aja keseruan film Uang Panai, dari sudut pandang saya yang bukan orang Bugis Makassar.


Optimisnya Makkita Cinema

Uang Panai memang bukan film yang bertabur pemain ngetop yang itu-itu mulu. Film ini lebih ke menyuguhkan alur cerita dan akting pemainnya yang walaupun kebanyakan orang baru, mereka keren-keren. Tumming dan Abu, nggak perlu ditanya lagi aktingnya. Mereka yang bikin komedi di Uang Panai sukses maksimal. Dari beberapa menit baru mulai aja udah bikin ngakak, selanjutnya mulut sampe sakit karena ketawa terus, haha... Mamanya Ancha juga nggak kalah gokil, mama gaul pedagang online instagram. Si Risna yang akting baper dan sesekali juteknya juga pas, dan ya begitupun pemain lainnya. Good job buat tim casting-nya.

Kagum dengan optimisnya Makkita Cinema Production untuk bikin film Uang Panai ini. Dengan mengandalkan alur cerita, tanpa berhamburan tokoh tenar, dan tayang di bioskop yang terbatas banget, mereka optimis kalau film Uang Panai bisa sukses. Dan sekarang buktinya emang sukses kan. Penjualan tiketnya nambah terus karena yang nonton juga bukan orang Bugis Makassar aja, ya kayak saya dan teman contohnya.



Tiga Tema Jadi Satu

Uang Panai memang film roman budaya yang dikemas dengan komedi. Biasanya saya kalau nonton film, roman budaya atau roman komedi. Kalau film Uang Panai ini gabungan ketiganya. Plus, bercerita juga tentang persahabatan.

Komedinya sukses. Gokilnya juaraaa... Saya suka banget dengan pengemasan romannya. Uang Panai bukan film roman yang dikit-dikit nyosor-nyosor, hahaha... Jadi orang yang tua-tua mau nonton pun, atau kita-kita yang enggak demen roman nyosor-nyosor, bisa menikmati. Kalau anak-anak umumnya fokus di Tumming dan Abu. Mereka menikmati banget visual komedinya.

Kalau untuk pengenalan dan penyampaian budayanya, disajikan dengan cara yang santai. Lewat dialog dan yang paling sering lewat banyolan, jadi nggak garing. Diselipkannya dengan cara yang buat saya, ini juara banget. Kagum deh sama tim script writer-nya.

awww...

100% Bahasa Lokal

Rasanya baru kali ini saya nonton film budaya yang 100% menggunakan bahasa daerah setempat. Buat saya yang bukan orang Makassar, jadi bisa belajar dan nyimak logatnya. Nggak susah-susah amat kok untuk disimak, walau sering juga sih baca teks bahasa Indonesianya, haha...

BBM-an si Ancha dengan Risna pun menggunakan bahasa lokal. Karena pemainnya juga orang sana, jadi ya untuk semua dialognya hidup banget.



Fokus di Alur Cerita

Saya pernah nyesel banget nonton sebuah film roman yang booming banget, tapi pas saya tonton, kok cuma kayak nonton iklan pariwisata dan cafe-cafe aja. Ya maaf sih, kalau cuma mau nonton daerah-daerah traveling yang asyik doang mah di youtube juga banyak. Oke, ini cuma masalah selera.

Uang Panai kalau buat saya fokus di alur cerita, cukup rapi. Saya suka dengan tekhnik pengenalan pariwisatanya di scene yang Ancha, Tumming, dan Abu nongkrong malem-malem di selurusan tulisan Losari. Pantai Losari memang biasanya tujuan banget buat yang pingin traveling ke Makassar. Ngenalin pariwisata tapi tetap fokus di alur cerita, mereka ngebahas tentang kisaran uang panai-nya Risna.

Trus ini yang buat saya juga keren banget, sewaktu Ancha dan Risna ketemuan di Japanese resto dan lagi pesan makan.

Risna   : Kenapa dua teman kita (kamu) tak diajak?
Ancha  : Ah dia itu kalau makan coto semangkuk, ketupatnya 10. Belum lagi ...

Dan tanpa sadar, omongannya si Ancha dicatat sama waiter, dikira mau pesan semua. Cara ngenalin kuliner-kuliner Makassar-nya keren banget. Ya walau cuma nama-namanya aja, karena fokus di alur cerita, at least buat penonton yang bukan orang Bugis Makassar – yang mungkin ada beberapa kuliner yang kami belum familiar – kami bisa googling kan. Dan detail juga, coto itu dimakannya dengan ketupat.

Dan ada juga pengenalan kuliner yang Tumming dan Abu ribut mau makan coto atau konro. Akhirnya mereka bilang, biar adil makan es pallubutung saja lah.

Oh ya, karena ini bukan novel yang difilmkan (mohon koreksinya kalau salah), twist-nya ya berhasil banget kalau menurut saya. Yang scene dengan siapa akhirnya Farhan menikah.

Dan pesan moral untuk yang ada niatan mau kawin lari, ini top banget.  Film ini juga bertabur iklan, tapi kalau buat saya masih nggak ganggu alur cerita. Suka dengan iklan blak-blakan Toyota dengan scene Ancha kerja di sana.


Banyak Istilah yang Asyik 

Film Uang Panai juga bertabur istilah-istilah yang baik dalam komedi maupun yang serius (tentang adat) yang sekarang juga cukup tenar. Ini contohnya...

“Shampoo-i mulutmu!” ini pas banget buat orang yang suka nyinyir dan rese-resein hidup orang lain, haha...

“Semangat ji...” ini juga keren buat ngasih semangat ke diri sendiri dan orang-orang terdekat kita.

Dan ada banyak lagi sih...

This is not Perfect, but...

Saya nggak bilang kalau ini film yang sempurna, tapi ya kalau buat saya, Uang Panai merupakan best project-nya Makkita Cinema. Nggak cuma menghibur dengan komedinya, tapi juga ngasih update pengetahuan tentang budaya Bugis Makassar.

Dari bintang 1 sampai 5, saya kasih bintang 6, saking kerennya ini film.

Oke, ini komen saya tentang film Uang Panai. Mungkin ada yang berbeda dengan sudut pandang teman-teman yang udah nonton. Makasih ya udah baca... 

Edit: Izinkan saya pejeng komen ini saking noraknya saya, haha... Awalnya mention Daeng Produser Uang Panai karena pingin minta di-retweet. Eh dapet komen kayak gini. So happy... Terima kasih daeng Andi Syahwal



Edit lagi: Izinkan saya pejeng ini juga, haha... Ini komen dari produser Uang Panai juga. Yang atas komen di blog ini, bawah di twitter. Nggak sembarangan loh yang nilai gaya nulis saya, hahahah... Terima kasih daeng Amril Nuryan.



Saya nggak nyangka, tulisan ini mengenalkan saya dengan dua "petinggi" film Uang Panai yang so humble. Sukses untuk Makkita Cinema.
 

No comments:

Post a Comment

Makasih ya udah meluangkan waktu untuk berkomen. Semua komen melewati jalur sensor dulu ya sebelum mejeng di blog.

Memang tidak ada notif setelah klik posting, tapi komen teman2 tetap masuk ya :)

I'm a member of

I'm a member of