Mengenal Sejarah Jakarta Melalui Film Pusaka Prajawangsa


Hai, teman-teman...

Ini kali kedua saya menghadiri dari serangkaian event bertema “Indonesia is Me”, event akbar dalam rangka hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-71 yang diadakan oleh Synthesis Development, yang merupakan pengembang propertinya Mall @Bassura, Bassura City, Prajawangsa City, Synthesis Square, Synthesis Recidence Kemang, dan beberapa proyek lainnya.

Event “Indonesia is Me” ini diadakan selama bulan Agustus 2016, dengan beberapa tema seperti Local Taste Culinary; The Art, Beauty, and Health; Indonesian Music Festival, serta Synthesis Merdeka Ride.

Di 6 Agustus 2016 kemarin, saya menghadiri event Petualangan Kuliner Indonesia yang diadakan di Mall @Bassura. Event tersebut berupa talkshow tentang kuliner lokal kita di mata dunia, yang menghadirkan narasumber mba Ira Lathief dari “Jakarta Food Adventure”, serta pak Harry Nazarudin dan ibu Lidya Tanod dari “Jalan Sutra”.

Nggak cuma talkshow aja, tapi kami juga berkesempatan untuk nyicipin kuliner lokal yang beberapa di antaranya cukup unik. Serta nggak ketinggalan juga info tentang apartemen Bassura City dan Prajawangsa City.

Untuk cerita lengkapnya saya tulis di sini ya...

Lalu di tanggal 20 Agustus 2016, bersama teman-teman dari Blogger Perempuan, saya kembali mendatangi Mall @Bassura untuk nonton bareng film Pusaka Prajawangsa, sebuah film garapan Synthesis Development yang script-nya ditulis oleh Alexander Thian dan tim.

Sebelum menyaksikan filmnya, kami terlebih dahulu menyimak info tentang apartemen Prajawangsa City. Siapa tau ada teman-teman yang lagi hunting apartemen. Apartemen Prajawangsa City ini berlokasi di Cijantung, dekat TB. Simatupang yang hanya 1,8 KM aja dari Ring Road TB. Simatupang.


Nggak cuma ada apartemen aja, Prajawangsa City juga dilengkapi dengan fasilitas lainnya, mulai dari perkantoran, convention hall, sarana olah-raga, bioskop, pusat pendidikan, kuliner, dan juga kesehatan untuk memudahkan dan pastinya bikin penghuni apartemen jadi semakin nyaman.

Untuk ruangan yang ditawarkan, sama kayak Bassura City, Prajawangsa City memiliki tiga tipe, yaitu studio, 2 kamar, dan 3 kamar. Prajawangsa City memiliki delapan tower, yang uniknya... nama-nama tower ini terinspirasi dari delapan nama Pusaka Prajawangsa yang merupakan bagian dari sejarahnya Jakarta, khususnya Cijantung, daerah tempat apartemen Prajawangsa City berada.


Untuk mendapatkan info yang lebih lengkap lagi tentang Prajawangsa City serta promo-promo yang ada, teman-teman bisa tinggal klik aja di synthesis-development.id

Selesai nyimak info tentang Prajawangsa City, selanjutnya waktunya kami menyaksikan film Pusaka Prajawangsa, yang menjadi inspirasi Prajawangsa City untuk menamakan setiap tower-nya.


Pusaka Prajawangsa. Sebuah film yang diproduseri oleh Synthesis Development. Film sejarah berpadu dengan roman tentang kerajaan Indraloka yang saat ini berganti nama menjadi Cijantung. Karena berbalut dengan roman, kisah cinta terpendamnya Drupadi pada Bima, membuat film sejarah ini nggak terasa “berat” untuk dinikmati hingga akhir.

Bima dan Drupadi merupakan dua orang murid yang sejak 400 tahun yang lalu mengalami reinkarnasi berkali-kali, hingga hidup kembali di era kekinian. Bima menjadi lelaki yang berprofesi sebagai pelukis, sedangkan Drupadi menjadi gadis cantik berprofesi photographer yang tinggal bersama sang guru bernama Srikandi.


Empat ratus tahun yang lalu, Prabu Prajawangsa berniat untuk mengabadikan delapan pusaka kerajaan dalam bentuk karya seni. Para seniman hebat di zaman itu pun diminta untuk menciptakan sebuah karya seni tentang penggabungan delapan pusaka kerajaan.

Kompetisi pun diadakan, hingga di akhir eliminasi yang tersisa tinggal tiga Mpu. Para Mpu ini juga meminta bantuan murid-murid mereka. Mpu pertama menugaskan murid-murid mereka untuk membuat delapan lukisan dengan media kain lurik. Lalu Mpu kedua menugaskan membuat patung megah, penggabungan delapan pusaka kerajaan yang kemudian dibalut dengan kain pusaka kerajaan.

Sedangkan Mpu ketiga malah punya ide untuk menghancurkan karya kedua Mpu sebelumnya, tanpa sepengetahuan mereka. Baku hantam pun terjadi dan yang tersisa tentu saja hanya karya dari Mpu Ketiga.


Cara-cara haram a la Mpu Ketiga sampai sekarang masih ada nih yang mengikuti, haha... Semoga bukan kita ya. Oh ya, ngomong-ngomong, jaman dulu itu guru ngasih tugas ke murid-muridnya cukup berat juga ya. Bikin lukisan, bikin patung, bukan cuma PR sepuluh nomer, hehe... Mari lanjut...

Tapi sang Prabu nggak puas dengan hasil karya Mpu Ketiga. Jadi otomatis nggak ada yang menang dari kompetisi ini. Nggak ada karya emas yang bisa menggabungkan delapan pusaka kerajaan Indraloka, hingga Prabu Prajawangsa meninggal.

Murid-murid dari Mpu pertama dan Mpu kedua, punya kesedihan mendalam atas meninggalnya sang Prabu. Hingga mereka berjanji, akan menyelesaikan hasil karya guru mereka, walau badai menghadang, bumi berguncang, dan mengalami reinkarnasi berkali-kali. Ah, nggak lebay gini juga kali, Nit, deskripsinya, haha... Ya intinya, mereka “berhutang karya” pada Prabu dan guru mereka.

Kembali lagi ke Bima dan Drupadi. Reinkarnasi cuma bikin Drupadi yang teringat masa lalu, tapi enggak dengan Bima. Bima kembali dipertemukan dengan Drupadi ketika dirinya lagi melukis di depan sebuah museum. Drupadi kepergok ketika lagi diam-diam fotoin Bima. Pertemuan singkat yang bikin Bima terlongo, tau darimana Drupadi kalau dirinya lagi menyelesaikan lukisan untuk sebuah pameran, namun stuck di lukisan kedelapan?


Ketujuh tema lukisan Bima memang ia dapat dengan cara yang unik, yaitu dari mimpi. Mimpi yang di-transfer oleh Drupadi.

Weda dan Winda, dua kakak-adik yang diam-diam mencuri semua lukisan Bima. Bima mendatangi rumah Drupadi dan guru Srikandi, menuduh mereka berdua yang mencuri. Sebuah video pun diperlihatkan oleh Drupadi, yang bikin Bima nggak percaya, karena Weda dan Winda merupakan sahabat Bima.


Oleh Drupadi dan guru Srikandi, memori Bima pun dikembalikan. Bima sempat pingsan beberapa saat, lalu tersadar, mengingat semuanya, namun tetap... hanya menganggap Drupadi sebagai adik.


Hingga pada akhirnya, karya kedelapan pun selesai dan pameran lukisan Bima berlangsung lancar. Kedelapan lukisan di atas kain lurik yang masing-masing memiliki nama serta makna, dan inilah yang digunakan PrajawangsaCity sebagai nama tower.

Aksa               : Cincin bermata yang melambangkan kejernihan diri, jiwa, dan pikiran.

Bargawa         : Tusuk konde yang melambangkan pengetahuan.
(Nah, jangan menyepelekan tusuk konde ya, karena ini lambang pengetahuan lho, hehe...)

Cemeti            : Ikat pinggang kulit yang melambangkan pengendalian diri.

Diwangkara   : Pisau yang melambangkan kebijaksanaan.

Ekanta            : Mahkota yang melambangkan kekuasaan.

Fulmala          : Perisai tangan yang melambangkan welas asih.

Ganitri            : Gelang yang melambang pengabdian.

Hilma              : Kuas yang melambangkan penciptaan.
            
Sinopsis cerita ini bersumber dari web pusakaprajawangsa.id Dan kalau untuk filmnya juga bisa ditonton di web ini. Saya pun nonton lagi di web ini biar makin paham ceritanya, hehe...

Selesai nonton, kami beristirahat sembari makan siang dengan nukerin voucher nasi bakar dan siomay. 


            
Acara selanjutnya yaitu sharing dari script writer-nya,  Alexander Thian yang dipandu oleh mba Windi Gagas Media.

Mas Thian banyak menjelaskan tentang kepenulisan film Pustaka Prajawangsa yang bikin dia jadi banyak belajar tentang sejarah. Untuk kepenulisan narasi, yang real untuk dibutuhkan aja, nggak usah menggunakan kalimat yang berbunga-bunga. Ya, itu di antaranya dari beberapa sharing-nya mas Thian dan mba Windi.              

       
Saya senang dengan konsep soft selling dari PrajawangsaCity melalui film Pusaka Prajawangsa ini. Ide yang cukup unik. Cuma kalau dari saya pribadi, mungkin nonton barengnya lebih asyik, suaranya juga jadi lebih jelas, kalau nontonnya di bioskop Bassura City XXI.
            
Bintang 4,5 dari saya. Semoga Synthesis Development makin sukses dengan semua proyeknya. Terima kasih juga untuk Blogger Perempuan atas undangannya.

Terima kasih banyak untuk teman-teman yang udah mampir. 

No comments:

Post a Comment

Makasih banyak ya teman-teman udah meluangkan waktu untuk mampir. Semua komen akan melewati jalur sensor dulu yaaa...

BTW don't call me "Mak" or "Bunda" cause I'm not Emak-Emak or Bunda-Bunda :P