10 Kisah Puasa Ramadan Pertama Bersama Rasulullah: Semangat Takwa di Tanah Hijrah

Teriknya matahari di langit Madinah, menjadi saksi indah atas orang-orang pilihan yang merasakan pertama kalinya berpuasa di bulan Ramadan bersama Rasulullah. Durasi berpuasa yang adakalanya menjadi lebih panjang karena ketiduran, hingga tetap berpuasa saat menghadapi perang, merupakan kisah manis nan mengharukan dari Tanah Hijrah. Pada tulisan ini, mari kita kembali mengenang 10 kisah puasa pertama di bulan Ramadan bersama Rasulullah. Allahumma shalli 'ala Muhammad.

 

Puasa Ramadan Pertama Rasulullah
10 Kisah Ramadan Perdana Rasulullah Bersama Sahabat dan Umat

Apa kabar, teman-teman?

Sebenarnya udah agak lama juga nitalanaf.com ini punya label “Shalihah”. Harapan saya, label ini akan diisi dengan tema-tema yang berkenaan dengan dunia muslimah nan shalihah. Tapi bukan berarti teman-teman yang shalih nggak boleh mampir ya, hahaha... Ya, selain untuk pengingat diri sendiri, mungkin melalui tulisan demi tulisan ini kita jadi saling menambah pengetahuan dan mengingatkan.

Nah, karena nggak lama lagi kita akan menyambut datangnya bulan suci Ramadan, saya jadi kepikiran: Gimana ya rasanya, saat dulu Rasulullah bersama umat menjalankan ibadah puasa untuk yang pertama kalinya? Ditambah lagi pada masa itu kan sedang terjadi perang pula. Apa para sahabat dan umat Rasulullah sanggup berperang sembari menjalani puasa?

Ya, pada masa sekolah dulu tentunya kita juga udah mempelajarinya. Jadi, tulisan ini memang untuk sama-sama kita mengenang aja, akan para orang pilihan yang Allah izinkan untuk merasakan nikmatnya berpuasa di bulan Ramadan bersama Rasulullah.

Terangkum 10 kisah Rasulullah bersama para sahabat dan umat saat pertama kalinya menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Berikut ini rangkaian cerita perjuangan dari Tanah Hijrah, Madinah Al-Munawwarah:

 

1. Perintah Puasa Ramadan Tak Lama Setelah Hijrah

Pertama kalinya Allah memerintahkan umat Islam untuk menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan adalah pada tahun ke-2 Hijriah, sekitar 624 Masehi. Kala itu, Rasulullah dan para sahabat baru aja hijrah ke Madinah sekitar 18 bulan.

Perintah berpuasa ini datang melalui wahyu yang turun pada bulan Sya’ban, melalui Surah Al-Baqarah ayat 183: “Yaa ayyuhal ladziina aamanuu kutiba 'alaikumush shiyaamu kamaa kutiba 'alal ladziina min qablikum la'allakum tattaquun.”

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa."

 

2. Puasa di Bulan Ramadan: Kewajiban yang Sempat Menjadi Pilihan

Eh, maksudnya gimana? Jadi, Allah memang memerintahkan umat Islam untuk berpuasa di bulan Ramadan. Namun masih memberikan keringan dengan membayar fidyah. Pilihan ini tertuang dalam Surah Al-Baqarah ayat 184: “Ayyaamam ma'duudaat, fa man kaana minkum mariidhan au 'alaa safarin fa 'iddatum min ayyaamin ukhar, wa 'alal ladziina yuthiiquunahuu fidyatun tha'aamu miskiin, fa man tathawwa'a khairan fa huwa khairul lah, wa an tashuumuu khairul lakum in kuntum ta'lamuun.”

Artinya: "(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."

Kenapa Allah memberikan pilihan? Ini dikarenakan kondisi ekonomi dan fisik umat Islam saat itu memang sedang berada dalam masa sulit setelah masa awal hijrah. Keringanan ini menjadi bentuk kasih sayang Allah, biar kewajiban baru ini nggak langsung terasa membebani mereka yang sedang berjuang bertahan hidup. 

Ditambah lagi, kala itu memang masih dalam kondisi perang. Umat masih harus berbadapan dengan musuh. Baru setelah beberapa masa, saat kondisi umat udah lebih stabil, berpuasa di bulan Ramadan pun wajib dilakukan oleh umat Islam yang sehat. Tetap Allah memberikan keringanan pada umat yang mengalami kondisi tertentu.

 

3. Puasa Ramadan Bukanlah Ibadah Puasa yang Pertama

Sebelum ada perintah berpuasa di bulan Ramadan, Rasulullah bersama sahabat dan umat memang udah menjalankan ibadah puasa sebelumnya, yaitu Puasa Asyura dan Ayyamul Bidh. Puasa Asyura merupakan ibadah puasa sebagai perwujudan rasa syukur atas selamatnya Nabi Musa dari kejaran Firaun. Puasa Asyura ini dilakukan setiap tanggal 10 Muharam. Sedangkan Puasa Ayyamul Bidh merupakan puasa yang dilakukan selama tiga hari saat pertengahan bulan. 

Setelah perintah Ramadan turun, hukum kedua puasa ini nggak lagi wajib, melainkan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan.

Betapa Allah memberikan perintah dimulai dari hal yang ringan dulu ya, nggak langsung memerintahkan umat untuk berpuasa sebulan penuh. Umat diminta untuk latihan dulu melalui Puasa Asyura dan Ayyamul Bidh.


4. Berpuasa Sembari Berperang

Saat menjalankan puasa Ramadan perdana, Rasulullah dan para sahabat juga sedang menghadapi kondisi perang. Pada tanggal 17 Ramadan, pasukan muslim harus keluar menuju Lembah Badar untuk menghadapi kaum kafir Quraisy.

Kebayang nggak sih, terkadang kita kalau kerja seharian di bawah terik matahari aja rasanya udah nggak sanggup meneruskan puasa. Iya deh, bukan "kita", tapi saya, hahahah...

Masya Allah, sementara itu Rasulullah bersama para sahabat berperang dalam keadaan puasa, demi mempertahankan nyawa dan ketakwaan pada Allah. Tapi Rasulullah tetap memberikan keringanan, pada sahabat untuk boleh membatalkan puasa atau nggak berpuasa, kalau memang memerlukan kekuatan fisik dalam mempersiapkan peperangan. 

Hasilnya pun berbuah manis; umat Islam memenangkan Perang Badar. Betapa Ramadan merupakan sebuah simbol kekuatan fisik dan mental yang dimiliki oleh umat Islam.

 

5. Berpuasa di Bawah Teriknya Langit Madinah

Madinah
Ilustrasi Teriknya Madinah Zaman Dulu

Puasa Ramadan perdana ini dijalankan saat langit di Kota Madinah sedang terik-teriknya. Tanah Madinah yang berpasir, semakin memantulkan hawa panas ke wajah Rasulullah dan para sahabat.

Namun uniknya, meski cuaca panas ekstrem, durasi puasa di Madinah itu jadi lebih singkat dibandingkan banyak wilayah di bagian utara dunia (sekitar 13-14 jam). Jadi meski teriknya sangat menyengat, waktu menahan lapar dan dahaganya nggak sepanjang seperti di Eropa saat musim panas.

Kalau kata teman, orang Minang yang tinggal di Jerman, berbuka puasa di sana itu “sakijok mato” alias sekejap mata, haha... Baru sebentar berbuka, eh udah masuk waktu Subuh aja.

 

6. Kalau Ketiduran Artinya Udah Mulai Berpuasa

Ini juga salah satu aturan yang unik saat awal diperintahkannya puasa. Pada masa itu, hitungan puasa dimulai sejak kita tidur malam. Jadi misalnya nih, habis Maghrib kita berbuka, lalu ngantuk dan ketiduran. Saat terbangun sejam kemudian untuk shalat Isya, langsung dianggap berpuasa. Makan dan minumnya ya udah nanti saat Maghrib esok harinya.

Dari durasi waktu berpuasa ini, ada kisah sahabat Rasul bernama Qais bin Shirmah Al-Anshari. Beliau ini kan seorang buruh tani yang bekerja keras seharian. Ketika udah masuk waktu berbuka puasa, Qais pun kembali pulang dan bertanya pada istrinya, apakah ada makanan untuk beliau berbuka puasa.

Stok makanan yang nggak ada sama sekali di rumah, membuat istri Qais pun keluar rumah untuk mencari makanan. Lalu saking letihnya Qais sepulang dari ladang, beliau pun akhirnya ketiduran – tanpa sempat berbuka puasa. Begitu terbangun, kan aturannya udah harus langsung berpuasa ya, walau Subuh masih sekian jam lagi.

Keesokan harinya, Qais tetap berangkat ke ladang dalam kondisi yang sangat lapar. Qais pun akhirnya jatuh pingsan saat sedang berladang.

Setelah beberapa masa, Allah pun memberikan keringanan dalam Surah Al-Baqarah ayat 187: “...wa kuluu wasyrabuu hattaa yatabayyana lakumul khaythul abyadhu minal khaythil aswadi minal fajr...”

Artinya: "...dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar..."

Berkat ayat ini, durasi puasa kita ditetapkan dari fajar (Subuh) sampai Maghrib, meski kita sempat tidur sebelumnya. Betapa Allah benar-benar nggak ingin menyulitkan umat-Nya ya.

 

7. Belum Ada Perintah Shalat Tarawih Berjamaah

Perintah puasa Ramadan saat itu belum dibarengi dengan shalat Tarawih berjamaah secara rutin di masjid. Rasulullah melakukannya seorang diri, agar umat nggak menganggap ibadah ini sifatnya wajib dan akan memberatkan. Shalat Tarawih berjamaah baru dimulai secara luas pada masa Khalifah Umar bin Khattab.

Masya Allah, semoga Allah izinkan saya untuk merasakan indahnya shalat Tarawih di Masjid Nabawi juga.

 

8. Berbuka Puasa dengan Kurma, Karena Hanya Itu yang Ada

Kurma
Ilustrasi Berbuka Puasa dengan Kurma dan Air Putih

Saat menjelang bulan Ramadan, biasanya minimarket dan supermarket akan memajang kurma-kurma kemasan dalam berbagai merek. Begitupun dengan e-commerce yang bertabur promo kurma kemasan.

Ya, kurma memang identik dengan cemilan pembuka puasa. Rasanya yang manis, penuh nutrisi, serta yang terpenting merupakan makanan pembuka puasa yang sama seperti Rasulullah dulu.

Namun, bagi Rasulullah dan kaum muslimin kala itu, menyantap kurma saat berbuka bukanlah sebuah pilihan. Kurma menjadi menu pembuka puasa karena memang itulah makanan pokok darurat yang tersedia.

Kala itu kondisi ekonomi umat memang sedang sulit. Rasulullah bersama para sahabat baru aja hijrah dari Kota Makkah tanpa membawa harta benda. Jadi, berbuka dengan kurma dan minum air putih merupakan nutrisi yang paling praktis dan murah, namun mampu memberikan energi agar tetap kuat beribadah dan siaga saat menghadapi perang. 

Masya Allah ya. Ternyata selain manis dan sedap, buah kurma juga merupakan simbol akan keikhlasan dan kesederhanaan dalam bertakwa kepada Allah.

 

9. Belum Ada Kalender Hijriah

Teman-teman, tiap kali kita akan menyambut tahun baru Muharram, bulan Ramadan, atau Idul Fitri, biasanya kita tinggal mengecek kalender di HP atau bertanya, “Sekarang ini tahun berapa Hijriah, ya?”

Nah, di masa Rasulullah berpuasa pertama kali, kalender Hijriah itu sendiri sebenarnya belum ada. Sistem penanggalan yang kita gunakan sekarang baru lahir bertahun-tahun kemudian pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Lalu, bagaimana mereka menandai waktu?

Di zaman itu, cara para sahabat menandai tahun adalah dengan menyematkan nama peristiwa besar yang terjadi. Itulah mengapa tahun ke-2 Hijriah abadi dengan sebutan "Sanatul Qital" (Tahun Pertempuran). Karena di tahun itulah, ibadah puasa mereka berdampingan dengan semangat perjuangan membela agama.

Mereka nggak sekadar menghitung angka, tapi menandai waktu dengan pengorbanan dan ketakwaan yang nyata.

 

10. Perubahan Arah Kiblat

Momen puasa Ramadan pertama juga jadi makin berkesan karena terjadinya perpindahan arah kiblat dari Baitul Maqdis (Palestina) ke Ka’bah di Makkah. Perpindagan ini dilakukan pada bulan Sya'ban menjelang Ramadan. 

Betapa harunya umat yang akhirnya bisa shalat menghadap ke arah Ka’bah – rumah suci di tanah kelahiran yang sangat dirindukan. Peristiwa ini pun terus kita rasakan hingga sekarang.

Masya Allah, luar biasa sekali ya. Semoga Allah izinkan saya untuk berumrah, shalat, serta menatap indahnya rumah suci kebanggaan umat Islam ini.

 

Demikian 10 kisah momen berpuasa pertama di bulan Ramadan bersama Rasulullah dan para sahabat. Semoga menjadi semangat untuk kita dalam menjalankan ibadah Ramadan dengan sebaik-baiknya. Terima kasih banyak ya teman-teman udah mampir.

Terlampir materi dari eberbagai sumber.

Comments