Di tengah perjuangan adaptasi kehidupan dan ekonomi di Madinah, datangnya perintah untuk melaksanakan Idul Adha, tetap disambut dengan penuh suka cita oleh umat. Mulai dari takbir bersama, tradisi “tukar jalan”, hingga dua kambing gemuk sebagai kurban pertama. Melalui tulisan ini, mari kita napak tilas rangkaian kisah 10 suasana Idul Adha pertama bersama Rasulullah.
![]() |
| 10 Kisah Idul Adha Pertama Bersama Rasulullah |
Apa kabar, teman-teman?
Setelah menceritakan rangkaian artikel tentang Idul Fitri pada bulan Januari dan Februari lalu, pada bulan April dan Mei ini saya pingin meneruskan rangkaian artikel tentang Idul Adha. Mungkin di tengah kesibukan hidup ini, adakalanya kita jadi lupa akan yang udah dipelajari semasa sekolah dan mengaji dulu. Jadi lewat tulisan ini, yuk kita sama-sama mengingatnya kembali.
Kalau di Indonesia,
baik Idul Fitri maupun Idul Adha tentu memiliki euforia masing-masing. Idul
Fitri punya nuansa yang kuat akan kegembiraan di kampung halaman. Sementara
saat Idul Adha, rasanya para perantau lebih banyak merayakannya di tengah lingkungan
tempat tinggal sekarang.
Shalat Ied di tanah
lapang, lalu bersilaturahmi dengan warga sekitar sembari menonton pemotongan
hewan kurban, menjadi kegiatan seru perayaan Idul Adha -- baik di rantau maupun
di kampung halaman. Serta tentunya ada tradisi lainnya yang menjadi keunikan
masing-masing di tiap daerah.
10
Kisah Napak Tilas Idul Adha Pertama di Madinah
Masih dalam tahun yang
sama, yaitu 2 Hijriah, Rasulullah kembali menyampaikan pada umat akan datangnya
Idul Adha. Sama kayak waktu mendengar perintah berpuasa saat Ramadan, momen ini
tentunya disambut dengan penuh kehangatan, kegembiraan, dan solidaritas yang
luar biasa.
Bumi Madinah pun
menjadi saksi akan perayaan kemenangan iman, sekaligus simbol kepedulian sosial
umat Rasulullah kala itu. Berikut ini merupakan 10 kisah syahdu nan penuh makna,
yang menjadi warisan iman untuk kita semua:
1.
Perintah Kurban yang Menggetarkan Hati
Penyambutan Idul Adha
yang pertama ini sungguh terasa sangat istimewa, karena diiringi dengan syariat
berkurban yang baru aja diturunkan melalui Surah Al-Kautsar ayat 2: “Maka
laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.”
Para sahabat dan umat
pun menyambutnya dengan antusiasme tinggi. Berlebaran Idul Adha dan berkurban
ini merupakan cara umat bersyukur atas segala nikmat, setelah perjuangan
panjang di masa awal hijrah.
Masya Allah, moga
selalu menjadi teladan bagi kita ya. Ketika kita bersyukur dan bergembira, moga
kita juga dapat menyelipkan sedekah layaknya para umat berkurban dulu.
2.
Cinta Rasulullah dalam Seekor Kambing
Karena Allah udah
memerintahkan untuk berkurban, maka Rasulullah pun segera menyiapkan dua ekor
kambing jantan yang gemuk. Seekor kambing diniatkan untuk keluarga beliau,
kemudian seekor lagi ternyata diniatkan khusus untuk umat yang belum mampu
berkurban.
Well,
ini merupakan cara terindah Rasulullah untuk menyampaikan, kalau kita juga
boleh berkurban atas nama seseorang. Selain itu, begini juga cara Rasulullah
memastikan bahwa nggak ada umat yang “tertinggal” kala itu.
3.
Tampil Rapi di Al-Mushalla
Shalat Idul Adha
pertama ternyata nggak dilakukan di dalam masjid. Rasulullah mengajak seluruh
sahabat dan umat untuk bersama-sama ke tanah lapang -- yang disebut dengan
Al-Mushalla. Tradisi ini terus kita lakukan sampe sekarang ya, setidaknya di
lingkungan perumahan saya dulu.
Rasulullah juga
menyunnahkan mandi serta memakai pakaian terbaik, hingga bumi Madinah pun berubah
menjadi lautan manusia yang rapi, bersih, dan berwibawa.
4.
Gema Takbir di Sepanjang Jalan
Selepas Shubuh, gema
takbir pun membahana pada tiap sudut rumah. Rasulullah memang sangat
menganjurkan untuk mengeraskan suara takbir, saat menuju tempat sholat. Nggak
terbayangkan betapa indah dan syahdunya menyimak suara takbir yang dipimpin
langsung oleh beliau. Allahumma shalli
‘ala Muhammad.
5.
Tradisi "Tukar Jalan" yang Hangat
Pada saat Idul Adha ini
pula, Rasulullah menganjurkan tradisi bertukar jalan. Saat berangkat menuju
tanah lapang, beliau akan melewati satu jalan, lalu kembali pulang dengan melintasi
jalan yang berbeda biar bisa menyapa, bersalaman, dan menebar senyum pada lebih
banyak umat.
Siapa teman-teman yang
sampe sekarang masih suka mengikuti tradisi indah Rasulullah ini? Kalau di
Jakarta dulu memang kami lakukan, karena ke tanah lapangnya jalan kaki. Kalau
di kampung ini masjidnya agak jauh, jadinya naik mobil, hehehe…
6.
Keberkahan dalam Suapan Pertama
Berbeda dengan Idul
Fitri, pada Idul Adha, Rasulullah memilih untuk nggak makan apa pun sejak pagi.
Inilah anjuran "berpuasa" sebelum shalat Ied dilakukan. Barulah
setelah pulang (selesai shalat Ied), Rasulullah membatalkan puasanya dengan
menyantap hidangan dari daging kurbannya sendiri.
Nah, ini yang
seringkali ditanyakan: "Emangnya
boleh nggak sih, kalau kita berkurban, trus dapat bagiannya juga?"
Jawabannya, Rasulullah
tetap menerimanya ya.
Masakan dari daging
kurban ini merupakan simbol keberkahan pertama yang masuk ke tubuh, pada hari
nan suci.
7.
Khotbah yang Menyejukkan
Saat melangsungkan sholat
Ied, Rasulullah juga turut berkhotbah di hadapan para sahabat dan umat. Beliau
mengingatkan bahwa Allah nggak akan melihat rupa atau harta kita, melainkan
ketulusan hati.
Rasulullah juga
menekankan, bahwa inti dari berkurban adalah tentang ketakwaan, bukan cuma
sekadar ritual penyembelihan semata. Nasihat indah ini pun makin menyatukan
hati kaum Muhajirin dan Ansar dalam persaudaraan yang erat.
8.
Potongan Daging untuk Semua
Setelah penyembelihan,
suasana Madinah pun berubah menjadi penuh suka cita. Rasulullah melarang siapa
pun berpuasa, karena hari raya merupakan waktu untuk menyambut nikmat Allah.
Beliau sampai memastikan, bahwa aroma masakan lezat harus tercium dari setiap
dapur, termasuk dari rumah warga yang paling kekurangan.
9.
Sisi Manis dan Hiburan Rakyat
Momen Idul Adha pertama
bersama Rasulullah, makin lengkap dengan hiburan berupa pertunjukan ketangkasan
pemuda Habasyah yang memainkan tombak. Rasulullah bahkan dengan sabar menemani Aisyah untuk ikut menonton kemeriahan ini, menunjukkan sisi beliau
yang sangat menyayangi keluarga.
10.
Solidaritas Tanpa Batas
Lewat momen Idul Adha
ini pula, sekat-sekat sosial di antara para umat seolah melebur. Nggak ada lagi
perbedaan antara si kaya dan si miskin. Semua umat penuh suka cita menikmati
hidangan yang sama.
Inilah esensi
kepedulian yang dibangun oleh Rasulullah. Perayaan yang mengenyangkan perut, sekaligus
menenteramkan jiwa.
Teman-teman, beginilah
10 kisah syahdu akan penyambutan Idul Adha pertama yang dipimpin langsung oleh
Rasulullah. Betapa sebuah tradisi yang mengajarkan kita, bahwa ibadah terbaik
adalah yang membawa manfaat bagi sesama.
Semoga Idul Adha kita
tahun ini, juga dipenuhi dengan kebersamaan dan ketulusan yang sama. Makasih
banyak teman-teman udah mampir.

Comments
Post a Comment
Hai temans, makasih banyak ya udah meluangkan waktu untuk mampir. Semua komen dimoderasi dulu ya. Jangan lupa untuk mampir pada postingan lainnya.