Di balik keputusan Ibu untuk kembali bekerja pasca cuti, terkadang ada galaunya hati yang mungkin takkan pernah orang lain pahami. Memutuskan kembali bekerja, bukan cuma sekedar tentang melanjutkan karier aja, namun juga ada kalanya tentang perjuangan menambal ekonomi keluarga yang tak perlu orang lain mengerti. Bahkan, ada pula ketika nafkah itu harus dijemput oleh para Ibu seorang diri -- sejak napas pertama ananda (bahkan jauh sebelum itu).
Di tengah riuh kabar yang menciutkan nyali, percayalah bahwa setiap ikhtiar Ibu dan Ayah dalam memilih perpanjangan tangan untuk menjaga si kecil, merupakan bentuk cinta yang mulia. Sebuah langkah yang akan selalu disertai doa, semoga Tuhan senantiasa mendekap buah hati Ibu dan Ayah dengan sebaik-baik penjagaan.
![]() |
| Menitipkan Anak Pasca Cuti |
Apa kabar, teman-teman?
Sepekan belakangan ini, linimasa saya memang dipenuhi oleh berita tentang penganiayaan sejumlah anak. Ironisnya, hal itu dilakukan dalam sebuah daycare -- tempat di mana para Ibu dan Ayah merasa bahwa di sanalah terdapat pelukan ternyaman untuk ananda tersayang, kala terpaksa harus berjauhan sejenak.
Mungkin bagi para Ibu
dan Ayah yang saat ini udah terbiasa menitipkan anak-anak di daycare, ada sedikit rasa lega di hati
karena sejauh ini ananda terpantau baik-baik aja, di bawah pengawasan yang
terpilih. Moga daycare yang Ibu dan
Ayah pilih, selalu menjaga amanah dalam menjalankan tugasnya.
Namun, kondisinya
mungkin sedikit berbeda bagi para Ibu dan Ayah yang akan, atau sedang menyambut
kehadiran buah cinta pertama. Galaunya sering kali terasa berlebih, karena
semua ini merupakan wilayah baru yang belum pernah dialami. Ketakutan akan
hal-hal yang belum terjadi, sering kali menyelinap di tengah kebahagiaan
menyambut kehadiran buah hati.
Betapa memicu
pertanyaan yang menyesakkan: “Masih adakah tempat yang benar-benar aman untuk
jantung hati kami nanti?”
Kembali Bekerja, Bukan hanya Sekedar tentang Karier
Keputusan Ibu untuk
kembali bekerja setelah masa cuti habis, bukan melulu soal karier yang ingin
selalu tergenggam erat. Ada realita ekonomi rumah tangga yang nggak perlu
diketahui oleh orang luar. Di balik senyum seorang Ibu di tempat kerja, mungkin
ada perjuangan untuk menambal kebutuhan keluarga.
Ada pula perjuangan
para Ibu yang memang harus memikul beban nafkah sepenuhnya, seorang diri.
Menitipkan anak pada akhirnya menjadi sebuah ikhtiar diri atau bersama
pasangan, untuk memastikan kebutuhan rumah tangga dan masa depan si buah hati
tetap terjamin.
Menitipkan
dalam Penjagaan Tuhan
Ketika pilihan sulit
ini harus diambil, jangan biarkan ragu melanda terlalu dalam. Bawalah keputusan
ini dalam doa, mintalah petunjuk untuk dipertemukan dengan orang-orang yang
jujur. Selalu percaya bahwa Tuhan sangat mencintai buah hati Ibu dan Ayah,
bahkan melebihi cinta orang tuanya sendiri. Percayalah bahwa Tuhan akan selalu
menjaga ananda di mana pun berada.
Tentang musibah yang
sedang terjadi di luar sana, bukan berarti juga Tuhan nggak mencintai
putra-putri mereka. Ini juga merupakan duka yang kita iringi dengan doa, semoga
para orang tua korban selalu diberi kekuatan. Tak lupa sama-sama kita berharap,
semoga sistem pengawasan akan semakin baik, biar hal serupa nggak terulang
lagi.
Menutup
Mata dan Telinga dari Segala Cibiran
Sering kali, di saat
hati Ibu dan Ayah sedang rapuh, justru muncul cibiran yang menyakitkan --
seolah Ibu dan Ayah tega membiarkan anak diasuh orang lain.
Bayangkan betapa ironisnya,
ketika ada oknum babysitter atau
pengelola daycare yang berulah,
justru para Ibu yang paling sering disalahkan. Muncul kalimat penghakiman
seolah musibah itu terjadi karena kesalahan Ibu yang lebih memilih untuk
bekerja, ketimbang mengurus anak seharian di rumah.
Ingatlah, Ibu dan Ayah
nggak bisa mengatur isi hati, lisan, maupun tulisan orang lain. Atas segala
keputusan yang udah dipersiapkan matang oleh diri maupun bersama pasangan,
jauhkanlah diri dari lingkungan atau media sosial yang cuma bisa menghakimi,
tanpa tau perjuangan Ibu dan Ayah.
Fokuslah pada mereka
yang memberikan dukungan, dan memahami bahwa Ibu (dan juga Ayah) juga sedang
berjuang dengan cara yang luar biasa.
Bahagia
Ibu dan Ayah, Tentunya Bahagia Anak
Pada akhirnya, bahagia
orang tua akan menular pada anak-anaknya. Tetaplah berupaya untuk bahagia atas
keputusan yang diambil, karena ketenangan hati Ibu dan Ayah akan terpancar pada
senyuman ananda, saat berjumpa kembali di rumah. Memilih "tangan
kedua" yang amanah bukanlah tanda pengabaian, melainkan sebuah bukti cinta
orang tua yang nggak akan pernah terputus.
Sebagai seseorang yang
pernah menjadi “tangan kedua” dalam mendidik anak-anak, udah sangat terbiasa
saya bertemu, mengenal, dan berteman dengan para Ibu dengan segala profesinya.
Jadi sungguh tidak mungkin, kalau saya ikut menghakimi para ibu yang memerlukan
“tangan kedua” dalam hal merawat dan mendidik anak.
Rangkaian kata di atas, merupakan cara saya untuk selalu mendukung dan mendoakan segala keputusan para Ibu dan Ayah dalam membesarkan ananda tercinta. Moga bermanfaat dan makasih banyak ya udah mampir.

Comments
Post a Comment
Hai temans, makasih banyak ya udah meluangkan waktu untuk mampir. Semua komen dimoderasi dulu ya. Jangan lupa untuk mampir pada postingan lainnya.