Selamat Hardiknas: 10 Kilas Balik Dunia "Bangku Sekolah" di Tanah Air

Semarak Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) selalu mengingatkan kita pada semangat Ki Hajar Dewantara. Di momen spesial ini, rasanya seru juga kalau kita bernostalgia sejenak, dan melihat kembali perjalanan panjang dari "bangku sekolah" di tanah air. Mari kita simak 10 kilas balik dunia sekolah di Indonesia -- mulai dari zaman dulu hingga transformasi asyik di era Merdeka Belajar yang dirasakan anak-anak saat ini!

Hardiknas
10 Kilas Balik Dunia "Bangku Sekolah" di Tanah Air

Apa kabar, teman-teman?

Dari jaman kita sekolah dulu, setiap tanggal 2 Mei, biasanya kita selalu merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) kan ya. Mulai dari upacara khusus untuk menyambut Hardiknas, mengenakan pakaian adat layaknya perayaan 17 Agustus, sampai mengadakan berbagai kegiatan edukatif yang seru, kayak memakai kostum ala Ki Hajar Dewantara.

Mungkin teman-teman juga ada yang penasaran, atau mungkin ini menjadi pertanyaan dari ananda maupun keponakan tersayang. Sebenarnya, sejak kapan sih kita mulai merayakan Hardiknas ini? Lalu, mengapa tanggal 2 Mei yang dipilih?

 

Menelusuri Jejak 2 Mei: Mengapa Tanggal Ini Dipilih?

Pemilihan tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tentu bukan tanpa alasan. Tanggal ini merupakan hari kelahiran Bapak Pendidikan Nasional kita, yaitu Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, atau yang lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara. Beliau lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889.

Nah, perayaan Hardiknas ini ditetapkan secara resmi oleh pemerintah melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 316 Tahun 1959. Penetapan tersebut merupakan bentuk penghormatan, atas perjuangan Ki Hajar Dewantara yang udah mendirikan Taman Siswa pada tahun 1922.

Dulu, ketika dunia pendidikan cuma menjadi hak istimewa kaum bangsawan, Taman Siswa hadir sebagai oase yang memberikan kesempatan kepada rakyat jelata untuk mendapatkan pengajaran yang layak. Tiga semboyan beliau yang sangat terkenal, yaitu:

Ing Ngarsa Sung Tuladha (di depan memberi teladan)

Ing Madya Mangun Karsa (di tengah membangun semangat)

Tut Wuri Handayani (di belakang memberikan dorongan)

Sampai sekarang pun, ketiga filosofi tersebut masih menjadi fondasi dunia sekolah di Indonesia.

 

10 Kilas Balik Dunia "Bangku Sekolah" di Tanah Air

Perjalanan dunia sekolah kita, sungguh menyimpan banyak cerita unik dan transformasi yang luar biasa. Berikut ini sepuluh kilas balik perjalanan sekolah di tanah air dari masa ke masa:

 

1. Sekolah Rakyat Pertama di Era VOC (1607)

Jauh sebelum Indonesia merdeka, sekolah formal untuk rakyat pribumi udah ada sejak tahun 1607 di Ambon yang didirikan oleh VOC. Tujuannya saat itu bukan cuma untuk mengajarkan membaca dan menulis aja, melainkan juga sebagai sarana penyebaran agama.

 

2. Pesantren sebagai Sistem Sekolah Tertua (Abad ke-15)

Sebelum adanya sistem sekolah modern, Nusantara udah memiliki sistem pendidikan asrama tradisional melalui pesantren. Sistem ini menjadi wadah bagi santri untuk menimba ilmu agama langsung di bawah bimbingan para ulama.

 

3. Perjuangan Emansipasi R.A. Kartini (Awal Abad ke-20)

Ibu Kartini merupakan perempuan yang mendobrak batasan jaman dengan memperjuangkan hak pendidikan bagi perempuan. Semangat belajarnya yang tinggi, baik dalam mempelajari bahasa Belanda maupun keterampilan tradisional, menjadi tonggak emansipasi perempuan di tanah air.

 

4. Kehadiran Taman Siswa (1922)

Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa sebagai bentuk perlawanan kultural terhadap sistem pendidikan kolonial, menanamkan rasa cinta tanah air dan budaya bangsa kepada anak-anak Indonesia.

 

5. Masa "Sekolah Liar" yang Terancam (1932)

Sistem pendidikan Taman Siswa yang merakyat, sempat membuat pemerintah kolonial Belanda merasa terancam. Belanda bahkan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar untuk mencoba membubarkan sekolah-sekolah partikelir saat itu. Uh kejamnya!

 

6. Keterbatasan Buku di Awal Kemerdekaan

Pada masa-masa awal kemerdekaan, sarana belajar anak-anak juga sangat terbatas. Para siswa harus saling meminjam buku, atau dengan tekun menyalin materi pelajaran dari papan tulis.

 

7. Standardisasi dan Bahasa Indonesia (1950-an)

Setelah kemerdekaan, sistem pendidikan mulai diseragamkan secara nasional. Bahasa Indonesia pun secara resmi digunakan sebagai bahasa pengantar utama di seluruh penjuru Nusantara.

 

8. Wajib Belajar 6 Tahun (1984)

Pada tahun ini, pemerintah resmi meluncurkan program Wajib Belajar untuk memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan akses pendidikan dasar yang lebih merata.

 

9. Gerakan Literasi dan Muatan Lokal (2000-an)

Dunia sekolah mulai memasukkan kembali kearifan lokal ke dalam kurikulum, kayak pelestarian aksara daerah (Jawa, Bali, dll) di sekolah-sekolah.

 

10. Era Transformasi Digital dan Merdeka Belajar (Masa Kini)

Saat ini, pendidikan di Indonesia terus bertransformasi. Sistem "Merdeka Belajar", ngasih keleluasaan bagi guru dan siswa untuk berinovasi dan beradaptasi dengan era modern, tanpa melupakan akar budaya bangsa.

 

Belajar Tak Kenal Usia: Pendidikan untuk Semua

Perjalanan dunia sekolah tentu nggak lantas berhenti pas kita udah beranjak dewasa. Pembelajaran merupakan proses seumur hidup (lifelong learning) yang tetap menjadi milik orang dewasa. Walaupun nggak lagi harus bersekolah formal di ruang kelas, kita tetap bisa memperbarui keterampilan (upgrading skill) dari berbagai sumber.

Di era modern ini, tentunya kita juga bisa belajar dan menggali wawasan melalui kelas kursus daring (online), membaca buku-buku inspiratif, menjelajahi internet, hingga melakukan sharing session dan bertukar pikiran dengan teman-teman dari berbagai kalangan. Selama semangat untuk terus bertumbuh masih ada, kita selalu menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Perjalanan dunia sekolah di Indonesia merupakan cerminan dari kegigihan bangsa untuk terus tumbuh, dan mencerdaskan kehidupan. Semoga semangat Hari Pendidikan Nasional ini terus menyala dalam keseharian kita! Moga informasinya bermanfaat dan terima kasih banyak ya udah mampir.

Comments