Banjir dan tanah longsor yang menimpa Sumatra Barat serta dua provinsi tetangga kami, yaitu Aceh dan Sumatra Utara, memang telah lama berlalu. Namun, proses pemulihannya ternyata menghadirkan dampak baru bagi anak-anak. YAICI bersama PP 'Aisyiyah serta mitra kolaborasi lainnya hadir membersamai, memberikan bantuan dan edukasi tentang pemilihan gizi serta tumbuh kembang balita dan anak. Pada webinar 8 Juni 2026, saya pun diajak menyimak kisah lengkapnya.
![]() |
| Kisah Anak Pascabencana Sumatra |
Apa kabar, teman-teman?
Teman-teman, masih ingat nggak akan bencana banjir dan tanah longsor yang menimpa Aceh, Sumut, dan Sumbar November 2025 lalu? Sebagai warga negara Sumbar, tentu saya masih mengingatnya dengan jelas.
Pada akhir November kala itu, puncak banjir besar memang perlahan berlalu, menyisakan kondisi rumah dan sawah ladang yang rusak parah -- bahkan banyak yang udah nggak bisa digunakan kembali -- serta rasa trauma bagi yang mengalaminya.
Siapa sangka, di balik rasa ceria dan dunia bermainnya, anak-anak ternyata merupakan kelompok yang paling rentan terdampak dari bencana ini. Walaupun wilayah kami nggak terdampak, kami tetap merasakan keterbatasan akses.
Akses jalan utama yang terputus, menjadikan pasokan pangan dan kesehatan pun begitu sulit tiba di lokasi terdampak. Begitu pun dengan sarana air bersih dan memasak yang jauh dari memadai, menjadikan pangan untuk balita dan anak-anak sebisa mungkin yang instan siap makan aja.
Kalau dalam masa tanggap darurat, tentu sangat bisa dimaklumi. Tapi siapa sangka, ternyata kebiasaan ini terus berlanjut dalam masa pemulihan pascabencana. Balita dan anak-anak jadi terbiasa dengan menu instan yang tinggi kalori, natrium, dan gula. Ditambah lagi kondisi ekonomi orang tua yang belum stabil, serta akses protein hewani yang masih terbatas.
Bahkan, segelas kental manis seduh pun, terus menjadi suguhan bagi balita dan anak-anak. Warnanya yang putih layaknya susu, membuat minuman putih ini dianggap sebagai susu asli. Kondisi ini banyak ditemui ketika tim relawan YAICI melakukan pendampingan pada ibu dan anak pascabencana, sejak Januari hingga Mei 2026 lalu di lokasi berikut:
* Desa Batang Ara, Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh Tamiang
* Dusun Seu Sirah, Kecamatan Besitang, Langkat
* Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Agam
Bergerak Bersama: Aksi Nyata di Titik Terdampak
Saat melakukan observasi lapangan, tim relawan YAICI nggak cuma datang untuk ngasih bantuan aja, tapi juga memberikan edukasi akan pemulihan gizi dan tumbuh kembang anak pada ibu hamil, ibu menyusui, serta para ibu yang memiliki balita dan anak-anak usia sekolah.
Selain itu, tim relawan juga mengadakan trauma healing bagi anak-anak, dengan bermain bersama -- termasuk ngasih mainan baru. Uww… senangnya ya.
Yang nggak kalah menarik, tim relawan juga ngasih edukasi pada anak-anak mengenai rasa susu yang sebenarnya. Mereka mengajak anak-anak melihat tekstur susu, kemudian meminumnya bersama. Betapa sebuah edukasi seru, biar anak-anak paham kalau rasanya susu itu ya kayak gini! Nggak begitu manis, tapi bergizi.
Kolaborasi dengan PP 'Aisyiyah dan Mitra Lainnya
Pemulihan pascabencana merupakan tanggung jawab semua pihak. Dalam menjalankan program ini, YAICI juga berkolaborasi dengan Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat 'Aisyiyah (PPA).
Ibu Chairunnisa dari Majelis Kesehatan PP 'Aisyiyah menekankan bahwa ibu dan anak merupakan kelompok paling terdampak -- yang memerlukan pendampingan spesifik. Pendekatan berbasis komunitas dilakukan dengan merekrut kader lokal untuk pelacakan door-to-door.
Ibu Warsiti, Ketua PP 'Aisyiyah, juga menegaskan bahwa dalam pelaksanaannya, program ini juga melibatkan tim akademisi Muhammadiyah sebagai wujud semangat "One Muhammadiyah One Respond". Sinergi ini memastikan bahwa langkah-langkah di lapangan, nggak cuma berbasis kepedulian aja, tapi juga didukung oleh pendekatan ilmiah yang tepat.
Sejalan dengan itu, Ibu Rahmawati dari Majelis Kesehatan PP 'Aisyiyah ikut menekankan pentingnya menjaga ketahanan gizi sebagai prioritas. Dalam masa pemulihan, edukasi gizi bagi pengungsi menjadi langkah penting untuk mencegah risiko stunting, dehidrasi, hingga penurunan imunitas.
Sebagai aksi nyata, "Dapur Balita, Ibu Hamil & Ibu Menyusui" dibuat melalui lima langkah strategis: membangun kesadaran gizi, memenuhi kebutuhan khusus, melibatkan perempuan, memanfaatkan sumber daya lokal, serta memastikan keberlanjutan program. Masya Allah, keren banget ya!
Program ini juga didukung penuh oleh MDMC, Rangkul Foundation (Kak Zaskia Mecca), serta para Sahabat YAICI tentunya.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban publik, YAICI menjelaskan bahwa program ini udah menjangkau lebih dari 375 keluarga dan 310 balita melalui berbagai kegiatan, mulai dari edukasi pola makan sehat hingga penyaluran paket dukungan psikososial.
Tantangan dan Upaya Keberlanjutan
Keberhasilan program ini tentunya nggak lepas dari sinergi semua pihak. Namun, tim di lapangan tetap menghadapi tantangan besar, mulai dari medan geografis yang sulit hingga ketidakpastian keberlanjutan pemulihan pasca-relawan meninggalkan lokasi.
Sebagai langkah tindak lanjut, PP Aisyiyah berkomitmen untuk terus melakukan pemantauan kondisi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) secara berkelanjutan, melalui kunjungan keluarga dan pendampingan psikososial.
Menuju SOP Pemulihan Gizi Anak Pascabencana
Bapak Mas Satria Yudistira dari YAICI juga menegaskan bahwa udah saatnya upaya pemulihan pascabencana, bergeser dari sekedar membangun infrastruktur fisik, menuju pemulihan sumber daya manusia.
Tantangan utama yang harus segera dijawab adalah ketiadaan Standar Operasional Prosedur (SOP) khusus, mengenai pemulihan gizi anak di situasi pascabencana. SOP yang ideal semestinya mencakup:
* Standar bantuan pangan bergizi yang tepat sasaran.
* Daftar pangan prioritas anak dan pemantauan status gizi berkala.
* Aktivasi layanan Posyandu dan edukasi bagi keluarga.
* Dukungan psikososial dan pendampingan berkelanjutan bagi ibu dan balita.
Pada akhirnya, pemulihan pascabencana bukan cuma sekedar membangun rumah kembali, melainkan juga memastikan bahwa setiap anak tetap memiliki hak untuk tumbuh sehat. Jadi diharapkan, kegiatan ini dapat memfokuskan pemulihan gizi anak, sebagai bagian utama dari sistem penanganan bencana nasional.
Kalau para ibu di wilayah pascabencana aja diminta untuk memfokuskan gizi dan tumbuh kembang anak, apalagi yang bertempat tinggal di wilayah yang aman dan nyaman kan. Yuk mari sama-sama lebih bijak lagi dalam memilih asupan untuk ananda tercinta. Serta selalu ingat bahwa kental manis bukanlah susu, dan nggak bisa menggantikan nutrisi yang anak-anak butuhkan.
Mari terus dampingi tumbuh kembang ananda tercinta dengan menyajikan makanan yang bergizi seimbang, biar bisa tumbuh kuat dan meraih masa depan yang lebih cerah. Moga infonya bermanfaat dan makasih banyak ya udah mampir.

Comments
Post a Comment
Hai temans, makasih banyak ya udah meluangkan waktu untuk mampir. Semua komen dimoderasi dulu ya. Jangan lupa untuk mampir pada postingan lainnya.