Marandang – Tradisi Memasak Rendang untuk Puasa Hari Pertama

Ada banyak tradisi menyambut Ramadan yang dilakukan pada beberapa daerah di Indonesia. Kalau di Sumatera Barat, orang Minang terbiasa menyambut puasa hari pertama dengan marandang, alias memasak rendang. Berapa banyak dan bagaimana caranya, mari simak cerita lengkapnya ya... #BPNRamadan2022

Marandang
Marandang ka Puaso - tradisi memasak rendang di Sumatera Barat untuk hari pertama puasa

Apa kabar, teman-teman?


Sepanjang hidup saya, baru pada tahun ini saya akan merasakan Ramadan di kampung. Iya, setelah bertahun-tahun hidup di tanah rantau ibukota, selepas lebaran tahun lalu, saya memutuskan untuk pulang kampung.


Menjadi orang kampung, pelan-pelan saya mengenal dan belajar tentang adat dan budaya yang ada di Sumatera Barat ini. Termasuk juga tradisi orang-orang Minang ketika menyambut Ramadan, khususnya pada puasa hari pertama.


Walaupun Ramadan memang masuknya ke hari besar Islam, tapi tetaplah disambut secara adat juga. Karena memang adat Minang itu ya nggak lepas dari ajaran Islam.

 


Malamang – Tradisi Memasak Lemang untuk Menyambut Ramadan


Malamang
Malamang ka Puaso - tradisi memasak lemang di Sumatera Barat untuk menyambut puasa

Di ranah Minang, tradisi menyambut bulan suci Ramadan itu salah satunya adalah dengan malamang, alias memasak lemang. Memang nggak semua rumah atau keluarga mengadakan sih. Ibu saya pun tahun ini nggak malamang untuk menyambut bulan puasa ini kok.


Jadi beberapa hari menjelang Ramadan itu diadakan semacam pengajian atau selametan, dengan mengundang guru mengaji dan sanak saudara. Berdoa bersama, kemudian disuguhkan lamang serta makanan khas Minang lainnya.


Lamang tapai
Lamang Tapai

Kemarin itu ada dari pihak keluarga bapak saya yang mengadakan. Karena acaranya malam banget, jadinya saya nggak datang, hehe... Tapi tetap dong saya makan lamang ketan dan lamang kanji, yang memang udah dibungkusin untuk sanak saudara terdekat.


Huuuwww... Nita ye emang, ngajinya nggak mau, makan lamangnya semangat, haha...


Cerita tentang Malamang juga sebelumnya udah pernah saya tulis. Yuk mampir juga ya ke -) Malamang, Tradisi Memasak Lemang di Sumatera Barat

 


Marandang – Tradisi Memasak Rendang di Sumatera Barat untuk Puasa Hari Pertama


Marandang
Memasak rendang menggunakan kayu bakar

Bagi orang Minang, rendang itu nggak cuma sekedar masakan, tapi bisa dibilang menjadi bagian dari adat. Karena rendang itu memang udah ada, sejak pertama kalinya acara adat Minangkabau diadakan, yaitu pada abad ke-8. Udah lama banget kan ya... Untuk cerita lengkapnya, bisa mampir ke -) Mengenal Rendang Darek dan Rendang Pasisia aja ya...


Adat dan tradisi itu terus dilestarikan sampe sekarang. Nggak cuma untuk acara adat aja, tapi juga untuk memperingati hari besar Islam, termasuk menyambut puasa hari pertama di bulan Ramadan ini.


Walau biasanya menjelang Ramadan itu harga daging sapi jadi mahal, begitupun dengan cabe dan rempah lainnya yang suka ikutan mahal, tapi para ibu tetaplah mengusahakan untuk marandang.

 


Berapa Banyak Rendang yang Dimasak?


Rendang Pariaman
Rendang Padang Pariaman yang warnanya gelap kemerahan, karena cabenya banyak :D 

Banyaknya tentu disesuaikan dengan kebutuhan keluarga masing-masing. Kalau memang anggota keluarganya sedikit, ada yang memasaknya setengah kilo aja. Bisa dicampur kentang bulat yang kecil-kecil, kacang merah, atau singkong goreng yang dipotong dadu keci-kecil. Cukuplah untuk makan pada puasa hari pertama.


Jenis olahan rendangnya pun juga bisa disesuaikan kok. Misalnya keluarga maunya rendang ayam aja, rendang bebek, atau yang lainnya. Tapi memang yang umumnya dimasak itu ya rendang daging sapi.


Ada pula para ibu yang memasak rendang cukup banyak, karena untuk dikirim ke anaknya yang tinggal di tanah rantau. Terutama anak-anak kos nih, siapa yang suka dikirimin rendang sama ibunya, tiap menjelang puasa...


Rendang khas Minang yang dimasak secara tradisional, minimal dengan kompor gas yang dimasak api pelan hingga 4 jam lebih lamanya, hingga kering kehitaman, ini bisa awet hingga beberapa hari. Jadi untuk anak kos yang nggak bisa masak, tentu memudahkan ya...


Tapi saya nggak pernah loh dikirimin rendang sama ibu saya, hahahhh... Karena saya kan tinggal sama almarhumah nenek. Jadi tiap menyambut Ramadan pun, nenek juga marandang. Walau hidup bertahun-tahun di tanah rantau, tapi tradisi Minang itu sebisa mungkin nenek lakukan.

 


Cara Memasak Rendang untuk Menyambut Ramadan


Marandang
Rendang dan Kentang khas Rendang Pesisir yang rempahnya lebih tajam

Biasanya untuk para ibu yang memasak rendang cukup banyak, apalagi untuk dikirimin ke anak-anak di tanah rantau, ini dimasak menggunakan kayu bakar. Karena rendang yang dimasak dengan kayu bakar ini bisa awet, hingga berbulan-bulan lamanya.


Cuma kami nggak pernah sih makan rendang yang sampe berbulan-bulan. Udah cepet abis, bokkk... hahahahhh...


Lalu kalau cuma sedikit sih ya pake kompor gas aja. Termasuk saya yang bukan ibu-ibu ini, hahahahhh... Yang penting tekhnik memasaknya tepat, rendang pun bisa kering kehitaman dan awet untuk beberapa hari.

 


Keuntungan dari Marandang alias Memasak Rendang untuk Menyambut Ramadan


Marandang
Randang Baralek - rendang yang disajikan di acara pesta pernikahan

Melestarikan Adat


Karena rendang bagi orang Minang merupakan bagian dari adat, jadi dengan memasak rendang pada perayaan adat dan hari-hari besar Islam, tentu juga merupakan salah satu cara kami untuk melestarikan adat.


Di samping itu, mungkin karena memang udah kebiasaan dari kecil juga. Jadi ketika puasa hari pertama itu, makan sahur pertama ya enaknya pake rendang, haha...


Jadi walaupun masak rendang itu lama, tekhniknya mesti tepat, tetaplah para ibu orang Minang bersemangat untuk memasak rendang. Termasuk saya yang bukan ibu-ibu, haha...

 


Bisa untuk Disantap Beberapa Hari


Biasanya orang memasak rendang itu dalam jumlah yang agak banyak, misalnya 1 kilo deh. Kalau rumah yang warganya sedikit, rasanya nggak mungkin juga langsung abis pas puasa hari pertama, hahahhh...


Ini makanya, walau memasaknya lama, tapi setidaknya besok atau lusa udah nggak perlu menyiapkan lauk lagi. Palingan tinggal masak sayur aja ya.

 


Ungkapan Cinta Seorang Ibu


Mengirimkan rendang pada anak-anak yang tinggal di rantau, merupakan salah satu cara seorang ibu, untuk menunjukkan bahwa anak-anak selalu di hatinya. Walau memang berkumpul di rumah nggak bisa tergantikan, tapi setidaknya rendang buatan ibu bisa mewakili.


Ini makanya seorang ibu rela bercapek-capek untuk memasak rendang, kemudian mengirimkannya untuk anak-anak. Walau kalau cuma untuk makan rendang aja, toh si anak bisa membeli sepotong demi sepotong di warung nasi Padang.


Tapi sekali lagi, bagi orang Minang, rendang bukan cuma sekedar makanan...

 


Bagi teman-teman yang mungkin mau memasak rendang juga untuk puasa hari pertama, saya udah nulis resep dan tekhnik memasaknya ya. Rendang Pasisia dari kampung kami di Pariaman. Yuk mampir -) Resep Rendang Padang Pariaman

 

Oke, ini dia cerita saya tentang puasa hari pertama, yang akan saya lewati di kampung ini. Moga menambah wawasan teman-teman juga ya, akan tradisi menyambut Ramadan di Sumatera Barat. Makasih banyak ya udah mampir...

6 comments:

  1. kiriman rendang dari kampung adalah hal yang dinantikan anak rantauan ini saat di tanah orang, hihi.

    ReplyDelete
  2. Bisa bisanya aku baru tau istilah marandang Mbak..Mbak.. Makasih lho Mbak..berkat blog Mbak Nita tauku ga asal makan doang tapi juga belajar sisi budayanya. 😎😎

    ReplyDelete
  3. Aku aja sampe skr msh dikirimin rendang Ama mama mbaa 😄. Jadi inget pas di Aceh, kalo udah Deket puasa, mama juga pasti masak rendang. Dan memang utk awal2 puasa. Pas aku kuliah , tetep tuh dikirimin buat stok. Dan selalu suka Ama rendang mama, apalagi kalo bikin ga kira2 pedesnya, disesuaikan Ama lidah kami yg pecinta super pedas hahahahaha.

    ReplyDelete
  4. Makanan yang menggugah selera ya mba. Dimasak buat stok selama beberapa hari juga masih bisa ya, apalagi buat anak kosan pasti seneng makan rendang. Hehe

    ReplyDelete
  5. Ternyata kak Nita ini orang Minang.. Wah.. Ngomong-ngomong, di rumah saya kemarin nggak malamang tapi tetap marandang kak, randang daging sapi + hati sapi. Salam dari Payakumbuh, daerah darek!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah enaknya itu. Ipar saya juga orang Payakumbuh. Senang saya main ke sana juga :D

      Delete

Hai, temans... Makasih banyak ya udah mampir. Semua komen lewat jalur moderasi dulu ya :D Don't call me "mak" or "bund", coz I'm not emak-emak or bunda-bunda :P