7 Plus 1 Tips Tetap Sehat Menjalani Puasa Saat Pandemi

Tiga tahun menjalani puasa saat pandemi, di 3 tempat yang berbeda pula, menghadirkan pengalaman dan kenangan yang luar biasa untuk saya. Termasuk menjaga tubuh biar tetap sehat, dalam menjalani puasa saat pandemi. Izinkan saya berbagi cerita serta tipsnya dalam #BPNRamadan2022

Puasa saat pandemi
Tetap sehat berpuasa saat pandemi

Apa kabar, teman-teman?


Masya Allah, nggak nyangka kalau di tahun 2022 ini merupakan tahun ketiga, kita semua menjalani puasa saat pandemi. Tiap orang tentu memiliki cerita masing-masing, dalam menghadapi Ramadan di tengah pandemi. Terlebih pada tahun pertama saat 2020 dulu ya...


Begitupun dengan saya, yang dengan takdir Allah, saya diizinkan untuk menikmati Ramadan di tempat yang berbeda, selama 3 tahun belakangan ini. Betapa pengalaman, sekaligus kenangan yang akan menjadi cerita, setidaknya untuk diri sendiri bahwa saya pernah melewati Ramadan dengan suasana yang tiba-tiba berubah, dengan berjualan rendang frozen yang nggak pernah terpikir dalam benak saya, hingga pada tahun ini saya menikmati Ramadan di kampung. Yang terakhir ini lebih-lebih enggak pernah terlintas sama sekali di pikiran saya.

 


Puasa Saat Pandemi di Tahun 2020

Puasa saat pandemi
Pertama kalinya menjalani puasa di rumah aja


Pekan ketiga di bulan Maret 2020. Kala itu dengan ditayangkan di TV, gubernur kami Pak Anies Baswedan mengumumkan bahwa Jakarta memasuki darurat Covid-19. Yang tadinya kami pikir, semua akan terlewati hingga 2 minggu aja, ternyata terus berkepanjangan hingga memasuki Ramadan, yang rasanya pada bulan Mei kala itu.


Kalau biasanya selepas Ashar itu, Jakarta mulai diramaikan oleh warganya yang pingin ngabuburit, saat itu udah dilarang. Kita tetap boleh kok keluar untuk membeli gorengan, kolak, asinan, dan berbagai jualan takjil lainnya. Tapi nggak boleh jajannya bergerombol, apalagi nongkrong-nongkrong. Jadi selesai beli jajanan takjil, udah langsung pulang.


Saya memang nggak pernah menjalani ngabuburit. Membeli takjil pun biasanya lebih ke ibu-ibu penjual gorengan yang keliling aja.


Selain itu, Ramadan pun terasa sepi karena tarawih yang juga nggak diizinkan, karena kita mesti sebisa mungkin nggak berdekatan dengan orang lain kan. Ada memang masjid yang tetap melaksanakan tarawih dengan berjarak, ada juga yang enggak mengadakan sama sekali.


Masjid tempat saya biasa sholat, termasuk yang enggak mengadakan sama sekali.


Oh ya, kala itu sejak awal April, saya udah nggak lagi ngajar, lalu banting stir menjualan nasi dimsum, tandem dengan adek sepupu yang berjualan ayam geprek.


Dimsum pake nasi? Iyesss... ketika Ramadan, ini laku, biasanya untuk menu anak-anak.

 


Puasa Saat Pandemi tahun 2021


rendang minang
Menjalani puasa dengan berjualan frozen food

Karena ada beberapa hal, saya pun memutuskan untuk ngontrak rumah sendiri. Hemm... mungkin lebih tepatnya kos ya, cuma area-nya lumayan besar, jadi bisa untuk saya berjualan masakan.


Sejak remaja saya memang dipaksa untuk belajar masak sama almarhumah nenek, haha... Terutama masakan Minang. Bukan masakan yang asal matang, tapi rasa dan tampilannya harus sesuai dengan standar nenek, hahahhh...


“Mana tau, nanti bisa dagang nasi...” Begitu pesan nenek, yang dulu beliau pun sempat berjualan Nasi Padang.


Takdir Allah juga, terlintas di pikiran saya untuk berjualan masakan Padang sebagai penyambung hidup. Bukan berjualan nasi, tapi frozen food.


Jadilah Ramadan saya diisi dengan bangun pagi, dengan mata yang masih sepet, haha... Saya berangkat ke pasar untuk membeli daging, ayam, ikan, cabe, serta bumbu untuk bahan berjualan.


Saya berangkat dan pulang dengan berjalan kaki, dengan jarak rumah dan pasar kurang lebih 4 ribu langkah. Jadi walau lagi puasa pun, tetap saya olahraga yang ringan-ringan.


Tiap weekend dan menuju lebaran, pasar pun makin rame. Baik pedagang mau pembeli, masuk pasarnya harus pake masker. Pasar yang saya datangi memang pasar modern di dalam komplek. Jadi dalam waktu tertentu, akan ada sidak.


Kalau pas weekend, sebisa mungkin saya hindari ke pasar. Kalaupun memang harus ke pasar juga, saya berangkat pagi-pagi banget. Pulang, masukkin belanjaan ke chiller, lanjut tidur, hahahhh...


Ramadan yang membawa berkah. Dulu saya berjualan rendang frozen aja hampir 10 kilo. Belum dengan masakan yang lain, Alhamdulillah... Kalau orang bilang, bikin rendang itu capek banget, menjelang lebaran saya masak hampir tiap hari, haha...


Kalau teman-teman mungkin ada yang terpikir mau bisnis rendang frozen juga, bisa mampir ke tulisan ini ya -) Sharing Bisnis Rendang Frozen Online

 


Puasa Saat Pandemi di Tahun 2022

Lembah harau
Menjalani puasa di Ranah Minang

Sejak lebaran tahun lalu, karena udah ada tanda-tanda Covid dengan variant terbaru akan mewabah, saya memutuskan untuk pulang kampung aja di pekan kedua Juni. Karena saya sendirian, saya khawatir seandainya kena Covid, siapa yang saya mau dimintain tolong.


Hidup di kampung yang terus berlanjut sampe sekarang, hehe... Saya pun merasakan bagaimana suasana di kampung ini menjelang Ramadan. Mulai dari tradisi malamang, alias memasak lemang untuk hidangan pengajian menyambut Ramadan. Hingga marandang, alias memasak rendang untuk puasa hari pertama.


Mari mampir juga di tulisan #BPNRamadan2022 saya di hari pertama kemarin -) Marandang, tradisi memasak rendang untuk puasa hari pertama

 


Tips Menjalani Puasa Saat Pandemi


Sop Padang
Makan sayur saat berpuasa

Sebenernya menjalani puasa saat pandemi atau enggak, buat saya ya nggak jauh beda. Cuma mungkin kalau menghadapi Ramadan saat Covid yang masih belum mereda, jaga kondisi tubuhnya harus lebih.


Ini dia beberapa tips dalam menjalani puasa saat pandemi:

 

Minum Air Putih


Sejak Shubuh hingga Maghrib tiba, badan kita udah nggak ketemu yang namanya air putih. Jadi begitu bedug Maghrib hingga memasuki sahur, tinggal kita atur minum air putihnya, biar mencukupi.


Saya kalau udah kena dehidrasi, karena air putih yang kurang dari hari ke hari selama puasa, saat puasa beberapa hari aja udah langsung kena sakit kepala, bahkan demam yang bikin puasanya bisa berhenti dulu karena harus makan obat dan banyak minum.


Apalagi kalau buka puasanya minum dingin, uwww... alamat kena pilek dan demam juga beberapa hari kemudian.


Minum air putih juga saya imbangi dengan makan buah yang mengandung banyak air. Untuk tambahan biar tubuhnya makin tercukupi kebutuhan mineralnya.

 


Perbanyak Kebutuhan Protein Nabati


Protein memang salah satu yang bikin tubuh kita jadi kenyang selama berpuasa. Makanya disarankan juga untuk mengkonsumsi protein nabati saat berbuka puasa dan santap sahur.


Protein nabati bisa didapat dari sayuran, kacang-kacangan termasuk tahu tempe ya, begitupun dengan susu kedelai.


Salah satu masakan sayuran berkuah yang sering saya masak adalah -) Sop Padang

 


Konsumsi Lemak Baik


Terkadang ada orang takut sekali makan lemak. Padahal dalam makanan yang mengandung lemak juga ada yang jenis lemak baik. Ini ternyata juga bagus ya dikonsumsi untuk orang-orang yang berpuasa. Karena lemak kan memang bisa menjadi cadangan energi ya, biar nggak lemas juga.


Contoh makanan yang mengandung lemak baik adalah ikan, telur, alpukat, keju, yogurt,  bji-bijian dan kacang-kacangan, minyak zaitun, kelapa serta minyak kelapa.

 


Hindari Makanan dan Minuman Manis Berlebih


Kalau berbuka puasa itu kan emang enak banget ya minum teh manis, sirup, atau es buah susu. Apalagi dingin, hehe... Begitupun dengan takjil manis kayak kolak, lopis, dan cemilan manis lainnya.


Tentu kita dibolehkan untuk menikmati hidangan yang manis ketika berbuka puasa. Tapi tentunya harus diingat jangan sampe bablas. Karena makanan dan minuman yang manis juga kan, salah satunya bisa bikin kita obesitas.


Kalau saya untuk nggak begitu suka makanan manis. Jadi biasanya hidangan manisnya itu ya dari teh manis aja.

 


Tidur yang Cukup


Saya terbilang susah tidur. Apalagi kalau udah Ramadan yang mesti terbangun untuk sahur. Sebagai gantinya, saya sempatkan tidur siang. Selama bulan puasa, biasanya memang libur ngajar sih. Makanya jadi punya waktu untuk tidur siang, hehe...


Walaupun sebenernya tidur yang benar itu ya full 6 – 8 jam ya, bukan dicicil, haha...


Untuk teman-teman yang full officer gimana? Ya udah berarti waktu tidurnya dipercepat, karena mesti bangun saat sahur kan.

 


Olahraga


Biasa dibilang kalau selama berpuasa, jalan kaki saya memang vakum. Tapi ketika ada libur month period, ini saya isi dengan berjalan kaki. Lumayan kan jadi dalam sebulan itu nggak vakum sama sekali.


Oh ya, dengan rajin berjalan kaki pula, Alhamdulillah saya hampir nggak pernah kena keram selama month period. Makanya berjalan kaki sampe 10 ribu langkah pun, saya bisa. Yang penting harus bawa minum.


Nah kalau lagi puasa gimana? Masa minum di jalan, haha... Jalan kakinya sekitar rumah aja. Trus belok ke rumah dulu untuk minum, kemudian jalan kaki lagi.

 


Minum Suplemen Bila Perlu


Tiap orang ada kondisi tubuhnya masing-masing. Jadi suplemen yang dibutuhkan pun berbeda-beda. Kalau saya lebih ke suplemen untuk penambah darah sih. Kalau vitamin C lebih ke makan buah aja.

 


Jangan Stres


Lalu ini yang terpenting. Sebisa mungkin kita melewati Ramadan hingga lebaran dengan hati yang tenang. Mungkin teman udah pada beli baju lebaran, haha... Sementara kita untuk menu buka puasa dan sahur aja megap-megap. Ya nggak apa-apa sih, jangan dibawa stres juga, haha...

 


Oke, ini dia cerita saya dalam menjalani puasa saat pandemi. Sebagai salinan cerita diri sendiri, yang mungkin ada manfaatnya bagi teman-teman. Makasih banyak ya udah mampir...


Pendukung materi:

https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-tarakan/baca-artikel/13843/Tips-Berpuasa-Saat-Pandemi-Covid-19.html

2 comments:

  1. Iyaa...sama, aku kencengin juga sayur dan buah biar tetep sehat meski puasa. Btw, rendang bikinanmu dari warnanya aja...udah keliatan enaknya lho nit..

    Sayang jauh yaa, kmu jual rendang frozennya. Klo kirim ke Jogja..kayaknya mahal di ongkir...

    ReplyDelete
  2. Maacih tipsnya, Alhamdulillah bisa lebih baik di 2022 ya mba, udah mulai kembali normal kegiatan kita saat puasa

    ReplyDelete

Hai, temans... Makasih banyak ya udah mampir. Semua komen lewat jalur moderasi dulu ya :D Don't call me "mak" or "bund", coz I'm not emak-emak or bunda-bunda :P