5 Cemilan Khas Imlek yang Saya Icip


Apa kabar, teman-teman?

Pertama kalinya menjadi English teacher itu ketika saya terdampar di sebuah lembaga kursus bahasa Inggris. Tempat les ini memang dekat dengan beberapa sekolah Katholik, jadi sebagian besar murid-murid kami merupakan keturunan Tionghoa dan non muslim, termasuk yang bukan keturunan Tionghoa. Tapi tempat les ini untuk umum sih.
Lalu pas udah nggak lagi kerja di sana, salah seorang murid saya dari tempat les itu SMS, minta saya untuk ngajar privat dia dan adiknya.

“How you know my number?” tanya saya pas udah mulai ke rumahnya.

“Your friend,” balas dia nyengir.

Friend yang dia maksud ini teacher yang masih kerja di sana. Nggak lama kemudian si friend ini bilang ke saya, “Eh, si Ardy sama Tony udah nggak les di sini lagi.” Haha...

Saya sih bodo amat. Lah mereka yang curhat ke Mamanya, “Miss Nita udah nggak ngajar lagi,” cerita Mamanya.

Bukan berarti cara ngajar saya bagus banget ya, cuma umumnya anak-anak memang malas ganti-ganti guru, apalagi kalau udah lama sama si guru itu.

“Tanya gih nomer hp-nya Miss Nita sama Miss yang ada di sana. Siapa tau bisa diminta ngajar ke rumah aja,” kata Mamanya.

Oke lanjut, sebelum saya malah ngalor-ngidul. Lalu murid privat saya pun nambah. Masih dari tempat les yang dulu, cuma tempat lesnya waktu itu udah tutup. Si friend yang rekomendasikan.

Saya ngajar Yola. Abis itu karena si friend ada kerjaan lain yang mesti ngelepas beberapa murid privatnya karena waktunya bentrok, saya pun handle Vivie dan Jordy, adeknya Yola. Jadilah sekeluarga ini saya yang ngajar, udah delapan tahun lebih rasanya. Ganti-ganti ngajar di lembaga udah berapa kali tapi ngajar mereka mah awet, haha... walau sekarang tinggal yang Jordy aja karena dua kakaknya udah lulus.

Karena hidup di lingkungan bos, orang-tua murid, serta murid yang keturunan Tionghoa, tiap kali menjelang Imlek, saya pun jadi terbiasa dengan beberapa cemilan khas Imlek. Apalagi kalau ke rumah Yola, Vivie, dan Jordy, karena memang paling lama ngajar ke rumah mereka.

Lalu apa aja sih cemilan yang biasa saya icip kalau lagi menjelang Imlek? Eh kok kenapa cuma cemilan? Ya kan menjelang Imlek, bukan di hari acaranya. Dan lagi, kalaupun makanan utama itu udah ada yang menyiapkan, tapi biasanya ada bahan yang non halal. Makanya mereka nggak mau ngasih. Karena dulu belum kerudungan, jadi awal banget ngajar, Mama mereka selalu pada tanya, “Miss Nita, maaf, Miss Nita agamanya apa ya? Biar aku nggak salah ngasih makanan.”

Ini dia pasukan cemilan khas Imlek  yang selalu saya icip di setiap tahunnya, entah disuguhin pas ngajar atau untuk dibawa pulang.  

Kue Keranjang

Dari semua cemilan yang ada, kue keranjang ini yang paling sering saya terima. Dulu malah waktu pas ngajar di tempat les dan buka bimbel, bertubi-tubi kue keranjang saya dapat, haha...

Kue keranjang alias Nian Gao, atau yang lebih ngetop dengan sebutan dodol Cina, merupakan perpaduan tepung ketan, gula merah, lalu dicampurkan dengan air dan diaduk sampai kental. Abis itu dimasukkin ke dalam cetakan, trus dikukus deh. Makanya disebut kue keranjang karena wadahnya kayak keranjang.

Nian Gao sendiri asalnya dari dua kata. Nian yang artinya tahun dan Gao yang artinya kue. Gao juga bisa diartikan “tinggi” kalau ngomongnya dengan intonasi yang beda. Eh saya pernah nih nyimak murid belajar intonasi bahasa Mandarin trus dia nasihatin saya pula, “Miss Nita ngajar bahasa Inggris aja muridnya udah banyak. Belajar bahasa Mandarin juga dong, biar Miss Nita makin banyak duit.” Hahaha... nyerah dah, bahasa Mandarin susaaahhh... Mendingan jadi buzzer ajah, ehhh...

source: resephariini.com
Lanjut ke kue keranjang. Biasanya kue keranjang ini disusun hingga tinggi atau bertingkat, dan makin ke atas makin kecil. Saya pun jadi tau, pantesan nerima kue keranjang ada yang ukurannya besar dan kecil. Mau ngasihnya yang mana, saya mah nerima aja, haha...

Makna dibalik kue keranjang ini adalah untuk peningkatan rezeki dan kemakmuran. Kue keranjang yang disusun secara bertingkat juga menjadi simbol kehidupan yang manis dan menanjak. Lalu kue keranjang juga menjadi simbol perekatnya hubungan kekeluargaan, persaudaraan, dan pertemanan. Ini juga mungkin ya makanya kue keranjang itu dibagi-bagi ke orang lain.

Untuk tahun ini, saya nerima kue keranjang dari Mama Jordy. Besoknya yang satu langsung saya goreng pakai tepung roti aja. Bahan-bahan dan cara masaknya sumper simple. Ini dia bahannya-bahannya:

Kue Keranjang Tepung Roti

Lalu cara masaknya:

Kocok telur. Gunakan satu dulu aja. Siapa tau cukup.

Belah empat kue keranjang, lalu iris tipis. Iya kalau kelewat tipis banget memang susah kalau saya sih, karena kan lengket. Iris sebisanya aja, haha...

Gulingkan  potongan kue keranjang ke dalam telur, lalu gulingkan lagi ke tepung roti.

Panaskan minyak dan margarin, lalu goreng adonan kue keranjang hingga kuning kecoklatan dengan api pelan.

Jadinya banyak juga ini dan rasanya jadi nggak terlalu manis.  

Jeruk Mandarin

source: batamnews.co.id
Biasanya saya kalau dikasih jeruk mandarin ini buat dibawa pulang. Jeruk mandarin disajikan selama malam Imlek. Oh ya, untuk penyajiannya ini nggak boleh jumlahnya empat atau kelipatan empat, karena angka empat dianggap sebagai angka sial. 

Kalau di Tiongkok sana, jeruk Mandarin memang buah yang berlimpah. Baik yang besar maupun yang kecil, keduanya punya makna yang baik. Jeruk mandarin yang besar bermakna kekayaan, sedangkan yang kecil bermakna keberuntungan.

Saya kalau dikasih selalu lebih dari empat dan nggak pernah perhatiin, itu besar atau kecil. Pokoknya langsung bagi-bagi ke orang rumah.

Kue Lapis Legit

Source: beres.id
Kalau ini biasanya disuguhin pas ngajar. Kue lapis yang saya suka icip itu lembut banget dan amis telurnya nggak berasa sama sekali. Harganya memang mahal dan bikinnya itu di special moment aja kayak Imlek atau perayaan lainnya. 

Iya lapis legit mah emang banyak yang jual kapan aja, tapi yang saya cobain itu yang edisi khusus Imlek, karena harganya yang mahal itu.

Kue lapis legit  ini melambangkan rezeki yang berlapis-lapis.

Permen

source: resepajib.com
Kalau aneka permen ini biasanya murid-murid yang suka ngasih. Ya namanya juga makanan anak-anak ya, hehe... Permennya nggak kayak gini deng, tapi pokoknya permen.

Biasanya di hari Imlek, nanti tamu-tamu yang datang akan disuguhi candy box  yang isinya berbagai macam suguhan dari “Baki Kebersamaan” atau “Tray of Togetherness”. Kalau murid-murid saya biasa naroknya di toples besar aja. Kadang isinya dicampur coklat juga. Kalau ada permen dan coklat, tebak... Miss Nita pilih yang mana? Haha...

Permen dan sejenisnya ini melambangkan awal kehidupan yang manis untuk awal di tahun yang baru.

Kue Bulan

Source: evouucher.co.id
Kalau yang saya baca sejarahnya, kue bulan atau moon cake ini untuk menyambut datangnya musim gugur. Tapi pernah saya dikasih ini pas menjelang Imlek, hehe...

Kue bulan ini layaknya bulan purnama. Jadi pada saat bulan purnama, anggota keluarga akan berkumpul (misalnya yang rumahnya udah pada jauh-jauh) untuk menyantap kue bulan. Maknanya adalah untuk menjalin kebersamaan antar keluarga.

Kalau di Tiongkok, Festival Kue Bulan ini menjadi perayaan besar kedua setelah Imlek.

Kue bulan yang saya terima itu dulu dari Mama Jordy juga. Satu kotak isinya empat. Rasanya kayak semacam kue bolu tapi kering dan di dalamnya ada ketan hitam padat banget. Walau nggak terlalu besar, tapi makan setengah aja kenyang banget.


Yeps... ini dia 5 cemilan khas Imlek yang saya icip tanpa harus meminta-minta atau nyindir-nyindir minta ditabok. Untuk sejarah dibalik kuliner ini, saya bacanya di www.tionghoa.info dan www.ragamkuliner.com Kalau ada yang salah, mohon koreksinya ya.

Menyenangkan rasanya bisa tau banyak tentang kebudayaan lain. Bagi saya, semua makna dibalik cemilan khas Imlek ini mengerucut pada satu kesimpulan... berkata dan berharaplah yang baik-baik ketika makan dan setelah makan. Jangan malah makanan dijadikan biang keladi pipi chubby, perut buncit, timbangan naik, dan sebagainya. Dan tak lupa untuk berbagi, bukan celamitan meminta.

Kalau teman-teman sendiri ada yang merayakan Imlek di sabtu besok? Untuk teman-teman yang merayakan, saya mengucapkan:

Makasih banyak ya udah mampir... 


63 comments:

  1. liat kue keranjang jd ingat masa kecil, kakek nenek dan ortu suka dapet kue keranjang karena mereka ada punya teman2 orang tionghoa. kebetulan kakek nenk dan ibu emang pedagang jg :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Kania: kalau pedagang biasanya banyak relasi agen yg keturunan Tionghoa ya 😁

      Delete
  2. Saya suka banget sm jeruk santang yg kecil-kecil. Banyak dijual juga saat menjelang imlek spt sekarang.

    ReplyDelete
  3. Walau gak merayakan tapi kebagian rizqi nya tiap tahun pasti deh dapat paling sedikit 4 kilo kue keranjang. Awet juga loh kue ini taro dikulkas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Taty: saya aja masih ada 1 lagi di kulkas 😁

      Delete
  4. Jeruk mandarin nggak nunggu imlek banyak bngt yg jual di toko buah. Kue keranjang kesukaan mamak tu, enak bngt..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Manda: menjelang Imlek makin membanjir 😁

      Delete
  5. Wah, kue keranjang bisa digoreng juga ya? biasanya langsung aku makan :)
    Sering banget dapat kue keranjang dari apotek2 :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Wid: kalau lagi malas juga langsung dimakan aja 😁

      Delete
  6. cemilan2 diatas yang belum aku coba moon cake, jadi penasaran buat nyoba, harganya berapaan mba kalo moon cake?

    ReplyDelete
  7. Bahagianya jadi Miss Nita, mengajar dapat, gaji dapat, cemilan pun ditenteng. Aku jadi kangen juga mau jadi guru privat sayangnya dulu ga dihargain banget gegara bernaung satu lembaga tenaga diperas, dapet duit ga sebarapa ongkosnya gede tsaahh kejammm..
    #malah curhat OOT hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Herva: ada lembaga yg bikin saya resign krn itu juga 😁

      Delete
  8. Aiihh, aku dong imlekannn. Suamiku Tobing, jadi anak2 itu merasakan tradisi dari paduan budaya Batak dan Tionghoa.

    Kue keranjang itu bisa juga dikukus, trus digulingin di kelapa parut.. Jadi ongol2 deh. Nyamm..

    Tulisan ini menginspirasi saya juga buat nulis soal Imlek ah. Terima kasih kunjungannya ke rumah saya mba Nitaaa..

    Salam dari Bekasi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Susan: wah anak2 jadi mengenal 2 budaya ya 😊 saya 1 lagi mau dibalurin kelapa juga aja deh 😁

      Delete
  9. Jeruk ama lapis legit nya mah aku doyan, yg lain mah kagak
    tapi kalo dapat angpao aku mauuuuuuu

    ReplyDelete
  10. Tahun ini keluargaku dapat kiriman kue keranjang:D berharap dapat angpau juga. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Lina: ada bonus ang pao juga ya 😁

      Delete
  11. saya belum pernah makan semuanya itu :D
    Yang saya tau momen imlek itu hanya identik dengan angpau hahah

    ternyata banyak juga ya kuliner khasnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Laili: jeruk sama permen masa blm pernah? 😁

      Delete
  12. Oooh.. itu namanya kue bulan? Saya agak asing sih dengan kudapan buat imlek, ga punya teman yang merayakan selama ini. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Irly: kue bulan pun saya jarang yg ngasih 😁

      Delete
  13. ah jd kangen Tangerang :( dulu waktu masih tinggal sama ortu, ortu suka dikasih kue keranjang banyak dari teman-temannya. Saya suka makan langsung, kadang digoreng tepung, kadang juga dibalur telur aja :D enakkk disini mah enggak ada yg ngasih hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Ria: di Tangerang banyak yg Imlekan ya 😁

      Delete
  14. KAlau aku, yang aku kenal banget itu kue keranjang sama jeruk mandarin.
    ENak itu... baru inget, ya. bentar lagi kita mau imlekan. hihi

    ReplyDelete
  15. Aku pengen makan kue bulan nih mba. Kayaknya enak. Kalau kue keranjang sering lihat tapi belum pernah makan. Hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Alida: kue bulan kenyang banget 😁

      Delete
  16. paling suka kue bulannya
    saya ada satu murid les yang juga ngrayain imlek, smoga dapat hantaran juga, hehe

    ReplyDelete
  17. Wih enak enak kayaknya, jadi mau... Apalagi liat kue keranjangnya hehe

    ReplyDelete
  18. Mbaa, klo kuenya udah beberapa kali makan tapi sejarah kue nya baru tau πŸ˜‚
    Imlek di daerah rumah nyokap rame, bnyk yg merayakan juga...cina benteng di Tangerang mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Ucig: wow tinggal di daerah Cina Benteng ya, mba 😊

      Delete
  19. Dulu aku sempet pnasaran antara kue kersajang ama kue bulan samaan, ternyata beda hihi
    Aku pengen nyobain kue keranjang yg digoreng...apakah jadinya berasa kayak gethuk...kan fia mirip dodol

    ReplyDelete
  20. Kalau dari gambar paling suka liat kue lapis legit itu. Pengen cobanget tapi bisa dapat dimana yah kalau daerah Makassar?

    ReplyDelete
  21. Heheh, sama.... saya juga seringnya dapat kue keranjang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas Muhaimin: yang paling umum ya 😁

      Delete
  22. Cuma kenal dan pernah mencicipi kue lapis legit. Yang kue keranjang sama bulan belum pernah makan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Dewi: dua makanan itu memang di special moment sih ya 😁

      Delete
  23. wuaaaaah... saya tahunya cuma jeruk mandarin, yang lain belum pernah icip-icip, hehehe
    itu kue keranjang digoreng? subhanallah... aya-aya wae...

    saya dulu pernah ngajar home schooling untuk anak tionghoa, tapi cuma bertahan dua bulan, karena saya rapuh, sibuk banget nget nget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ocha: wow pernah ngajar home schooling juga ya 😁

      Delete
  24. Wah, toleransinya tinggi ya mba :D
    Dari semua kue itu kayaknya pernah nyicipin cuma yang lapis legit doang sih. mmm... Ternyata setiap kue ada sejarahnya ya, asik beuudh bacanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mom Syuna: iya mereka mah pada baik2 😁 sekalian belajar budaya lain juga

      Delete
  25. Nit aku suka semuanya, tapi paling khas emank kue keranjang dan paling enak lapis legit πŸ˜„ ahh aki jadi kangen suasana imlek di Jakarta Nit baca postingan kamu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Sari: wah merayakan imlek juga ya 😊

      Delete
  26. jadi pengen banget makan dodol cina.. enak gak terlalu manis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Lia: ga bikin gigi ngilu ya πŸ˜‚

      Delete
  27. Aku pernah di buatin mi panjang umur tuh mba Nita,,. Khas Imlek ktnya dan mknnya jgn d gigit ,,smpi putus^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Utie: mie mereka juga ada tapi ada bahan non halal, jadi saya ga dibagi 😁

      Delete
  28. wihh..makanyaa enakk kayanya nih mbaa...mauu

    ReplyDelete
  29. Sepertinya yg belum pernah aku makan permennnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba April: permennya bukan yg kayak gini kok. Ini contoh aja 😁

      Delete
  30. permennya itu yang biasanya bentuk jeruk dan rasa jeruk bukan? dibuat dari jeruk yang dioven. atau ada jg permen dari jahe yang dioven.
    dari semuanya di atas itu, ajaibnya yang belum pernah saya icip malah kue keranjang. hahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Farida: haha iya mba, cuma nggak nemu foto permen yang tepat 😁

      Delete
  31. Liat kue keranjang jadi inget Ibu ade. Kalau pas imlek Ibu sering dapet kue keranjang, tapi beliau nggak mau makan krn ada tulisan Cina nya.. hahahah

    ReplyDelete

Makasih ya udah meluangkan waktu untuk berkomen. Semua komen melewati jalur sensor dulu ya sebelum mejeng di blog.

Memang tidak ada notif setelah klik posting, tapi komen teman2 tetap masuk ya :)